MARKET DATA
Internasional

Putin Tiba-Tiba Teriak, Sebut Barat Siapkan 'Perang' di Negara Ini

tps,  CNBC Indonesia
27 April 2026 05:30
Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita memeriksa kerusakan setelah serangan oleh orang-orang bersenjata terhadap penggembala Fulani di Ogossagou, Mali 25 Maret 2019. Foto diambil 25 Maret 2019. (Presidensi Mali / Handout via Reuters)
Foto: Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita memeriksa kerusakan setelah serangan oleh orang-orang bersenjata terhadap penggembala Fulani di Ogossagou, Mali 25 Maret 2019. Foto diambil 25 Maret 2019. (Presidensi Mali / Handout via Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Luar Negeri Rusia memberikan peringatan keras terkait dugaan keterlibatan negara-negara Barat dalam salah satu serangan teroris terkoordinasi terbesar yang melanda Mali, termasuk serangan ke bandara internasional Bamako dan kota garnisun Kati.

Serangan masif yang terjadi pada hari Sabtu, (25/04/2026), tersebut melibatkan sekitar 250 petarung yang menargetkan Bandara Internasional Modibo Keita dan pangkalan militer di sekitarnya. Kelompok afiliasi Al-Qaeda regional, JNIM, bersama kelompok pemberontak separatis Azawad Liberation Front (FLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang akhirnya berhasil dipukul mundur oleh pasukan Mali tersebut.

Pihak berwenang setempat belum merilis jumlah korban jiwa secara resmi, namun melaporkan sedikitnya 16 orang terluka dalam insiden yang diduga juga menargetkan kepemimpinan senior negara itu. Mengutip Russia Today, Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan kekhawatiran mendalam atas eskalasi tersebut melalui sebuah pernyataan resmi.

"Pihak Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi. Pertempuran ini menciptakan ancaman langsung terhadap stabilitas Mali, sebuah negara dengan hubungan persahabatan dengan Rusia, dan berisiko menimbulkan konsekuensi paling negatif bagi seluruh wilayah sekitarnya," tulis Kementerian Luar Negeri Rusia dalam unggahan di Telegram.

Moskow juga mengungkapkan bahwa operasi pembersihan masih terus berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan temuan awal di lapangan, Rusia mencurigai adanya campur tangan pihak asing dalam mempersiapkan para pemberontak untuk melakukan serangan skala besar tersebut.

"Data awal menunjukkan bahwa dinas keamanan Barat mungkin terlibat dalam pelatihan para pemberontak tersebut," tambah kementerian tersebut dalam penjelasannya.

Kehadiran militer Rusia di Mali melalui unit "Africa Corps" yang dibentuk pada tahun 2023 di bawah kendali Kementerian Pertahanan Rusia, turut ambil bagian dalam menstabilkan situasi. Dalam pernyataan terpisah, Africa Corps mengonfirmasi bahwa mereka terlibat langsung dan menemukan bukti penggunaan tentara bayaran serta senjata dari luar wilayah Afrika.

"Serangan itu didukung oleh tentara bayaran Ukraina dan Eropa yang menggunakan senjata buatan Barat. Kekuatan teroris kehilangan sekitar 1.000 militan dan lebih dari 100 kendaraan," ungkap perwakilan Africa Corps dalam laporan resminya.

Dugaan keterlibatan Barat ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov awal tahun ini, yang menuding Prancis mencoba menggulingkan pemerintahan nasionalis di wilayah Sahara-Sahel. Lavrov menyebut Prancis menggunakan metode kolonial dan memanfaatkan kelompok teroris serta militan Ukraina untuk membalas dendam atas keputusan Bamako yang memilih mendekat ke Moskow.

Prancis sendiri telah mengakhiri misi kontra-terorismenya di Mali pada tahun 2022 setelah otoritas lokal mengusir pasukannya. Saat itu, pemerintah Mali menuduh Paris mendukung kelompok teroris, meskipun tuduhan tersebut telah berulang kali dibantah oleh para pejabat Prancis.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin Ucapkan Belasungkawa ke RI Atas Banjir Bandang Sumatra


Most Popular
Features