MARKET DATA

Vale Klaim Stok Sulfur Aman di Tengah Gejolak Pasokan Global

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
24 April 2026 17:10
Slug dump di area pertambangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).
Foto: Slug dump di area pertambangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). (CNBC Indonesia/Lucky Leonard Leatemia)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Vale Indonesia Tbk memastikan ketersediaan bahan baku sulfur untuk memproduksi asam sulfat guna kebutuhan smelter masih aman. Terutama di tengah kekhawatiran industri terhadap potensi krisis sulfur akibat gangguan rantai pasok global.

Chief Financial Officer Rizky Andhika Putra perseroan telah menyiapkan buffer persediaan yang memadai untuk menjaga kelangsungan operasional tahun ini.

"Inventory nya cukup aman lah untuk tahun ini beroperasi jadi secara intake bisa dimanage dengan baik. Mungkin harga mudah mudahan sih ya kalau baca berita sih kelihatannya sudah perangnya udah cukup lebih menunjukkan sinyal positif," ujarnya ditemui di Jakarta, dikutip Jumat (24/4/2026).

Meski pasokan masih aman, Vale tetap melakukan langkah antisipatif. Ia menegaskan bahwa perusahaan secara aktif melakukan pengamanan dari sisi pengadaan (procurement), baik dalam hal sumber pasokan maupun dari sisi pemasok.

"Pasti jadi kami aktif untuk procurement baik dari sisi resource nya baik dari sisi kategorinya kita terus aktif untuk cari mitigasi selain itu secara operasional efisiensi sih jadi gak hanya fokus mencari dari sumber supplier tapi pasti juga efisiensi di masa masa begini. Antisipasi jadi fokus kita utama," katanya.

Sebagaimana diketahui, gangguan pasokan sulfur dari kawasan Timur Tengah mulai mendorong pelaku industri nikel di Indonesia mencari sumber alternatif. Namun, upaya pengalihan impor tersebut dinilai tidak mudah dan penuh tantangan.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengungkapkan, sejumlah pelaku usaha saat ini mulai menjajaki pasokan sulfur dari negara lain di luar Timur Tengah sebagai langkah antisipasi.

"⁠⁠Akibat gangguan pasokan dan kelangkaan yang telah terjadi, beberapa pelaku usaha mulai mengusahakan sumber-sumber lain yang berasal dari negara-negara di luar Timur Tengah," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).

Meski demikian, ia menilai langkah tersebut tidak serta-merta dapat menggantikan pasokan utama. Pasalnya, negara alternatif memiliki kapasitas produksi yang lebih terbatas.

"Hal ini tidak mudah, karena jaraknya bisa lebih jauh dan jumlahnya tidak sebanyak yang diproduksi oleh negara-negara Timur Tengah penghasil minyak bumi dan gas alam. Disamping itu harga sulfur dunia saat ini telah mengalami kenaikan yang sangat meningkat," katanya.

Oleh sebab itu, beberapa perusahaan juga mulai mempertimbangkan impor dalam bentuk asam sulfat sebagai substitusi sulfur. Namun opsi ini juga menghadapi kendala, mulai dari kompleksitas logistik, kebutuhan penanganan khusus, hingga proses perizinan impor yang dinilai masih cukup rumit.

"⁠Diperlukan kebijakan pemerintah dalam hal untuk mempermudah pemberian izin import asam sulfat pada saat kondisi darurat seperti ini," katanya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ogah Tunda Pungutan Bea Keluar Nikel, Purbaya: Pas Untung Diam Aja


Most Popular
Features