MARKET DATA

RI Bakal Punya Pabrik BBM Limbah Sawit, Bisa untuk Kapal-Pembangkit!

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
24 April 2026 15:10
sawit
Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sebentar lagi bakal memiliki pabrik biometanol berbasis limbah sawit dengan kapasitas awal 50 ton per tahun.

Proyek ini akan dikembangkan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) sebagai bagian dari upaya mendorong energi hijau dan dekarbonisasi.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menargetkan produksi awal biometanol dari Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat dimulai pada akhir 2026 atau awal 2027.

"Harapannya akhir tahun ini atau awal tahun depan itu biometanol yang dari biogas atau POME yang ada di (KEK) Sei Mangkei itu sudah bisa dihasilkan. Itu sekitar 50 ton per tahun kurang lebih," kata John dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/4/2026).

Lebih lanjut, John mengatakan bahwa dalam jangka panjang, kapasitas produksi ditargetkan meningkat dari 10 ribu ton per tahun, kemudian naik menjadi 30 ribu ton, hingga mencapai 35 juta ton per tahun (TPA) pada 2035.

Adapun, proyek ini dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan cleantech asal Singapura, cRecTech Pte. Ltd., yang teknologinya mampu mengonversi biogas dari limbah sawit menjadi biometanol.

Kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 2 April 2026. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap proof of concept dan akan dikembangkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

John menilai pengembangan biometanol menjadi penting karena kebutuhan metanol global yang besar, sementara tuntutan terhadap energi rendah karbon terus meningkat.

"Jadi biometanol ini atau metanol ini sebenarnya market itu luas sekali. Memang dikuasai oleh konvensional metanol yang selama ini. Namun dengan tuntutannya harus ada green energy dan lain sebagainya, dekarbonisasi, kebutuhan untuk biometanol ini meningkat," katanya.

Sebagaimana diketahui, biometanol dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif di sektor maritim untuk menggantikan Solar maupun heavy fuel oil (HFO). Bahan bakar ini dinilai mampu menekan emisi karbon sehingga lebih ramah lingkungan.

Selain itu, biometanol juga dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Bahan bakar ini mampu menyediakan pasokan listrik yang lebih bersih.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pertamina NRE Gandeng China, Kembangkan Energi Terbarukan RI


Most Popular
Features