Fenomena Produksi Mobil Numpang di 1 Pabrik, Kemenperin Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena sejumlah merek otomotif yang masih memanfaatkan fasilitas produksi pihak lain atau belum memiliki pabrik sendiri di Indonesia kembali menjadi sorotan. Tercatat beberapa brand yang masih mengandalkan fasilitas pihak ketiga seperti Handal untuk produksi, misalnya Chery, Jetour hingga Jaecoo.
Skema ini umum terjadi di tahap awal ekspansi, terutama bagi merek yang baru masuk pasar nasional. Pemerintah pun menilai praktik tersebut sebagai bagian dari strategi industri yang wajar dalam fase pengembangan investasi.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Setia Diarta menilai pendekatan joint production atau perakitan bersama bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan dalam industri otomotif.
"Tentang joint production, ini yang menarik sebenarnya, prinsip dasar ketika orang CKD (completely knocked down) itu bisa memanfaatkan fasilitas yang dia miliki sendiri ataupun fasilitas yang sifatnya lebih universal," kata Tata dikutip Jumat (24/4/2026).
Dalam praktiknya, penggunaan fasilitas produksi bersama kerap menjadi langkah awal sebelum produsen membangun pabrik secara mandiri. Skema ini juga dinilai mampu mengoptimalkan utilisasi fasilitas yang sudah ada di dalam negeri. Selain itu, pendekatan tersebut membuka ruang efisiensi bagi pelaku industri yang baru masuk pasar.
"Jadi, apakah salahkah ini? Tidak ada yang salah karena memang selama poinnya kembali, poinnya kembali pada memberikan nilai tambah bagi konsep itu. Dalam hal ini contohnya untuk ekonomi," sebut Tata.
Menurutnya, model bisnis dalam industri otomotif memang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan strategi masing-masing perusahaan. Variasi pendekatan ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong masuknya investasi baru ke Indonesia. Pemerintah melihat dinamika ini sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan industri manufaktur otomotif nasional.
"Ini bawaannya bisa beda-beda, modelnya bisa pilihan juga bisa. Ini yang mendorong sebenarnya kenapa tadi mulai ada perusahaan investasi juga," sebut Tata.
Kemenperin menekankan, yang terpenting dari setiap skema produksi adalah kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Selama aktivitas tersebut mampu menciptakan nilai tambah, keberadaannya tetap sejalan dengan arah kebijakan industri. Hal ini termasuk dalam mendorong penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok domestik.
"Jadi tidak ada yang salah sebenarnya untuk memproduksi kendaraan selama itu memang memberikan nilai tambah yang lebih besar," ujar Tata.
source on Google [Gambas:Video CNBC]