MARKET DATA

Pangkas Tengkulak, Amran Sebut Kopdes Bisa Selamatkan Rp263 Triliun

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
23 April 2026 19:15
Inspeksi Mendadak Menteri Pertanian dan Direktur Utama Perum Bulog dalam rangka pengecekan stok beras di JDP karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (CNBC Indonesia/Martya Rizky)
Foto: Inspeksi Mendadak Menteri Pertanian dan Direktur Utama Perum Bulog dalam rangka pengecekan stok beras di JDP karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (CNBC Indonesia/Martya Rizky)

Karawang, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mendorong skema baru distribusi pangan lewat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dengan target utama memangkas dominasi tengkulak sekaligus mengalihkan keuntungan besar langsung ke petani dan masyarakat desa.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menilai, selama ini rantai pasok pangan terlalu panjang dan tidak efisien. Banyaknya jalur distribusi membuat margin keuntungan justru menumpuk di perantara (middleman), bukan di produsen.

Hitungan Kementan menunjukkan margin yang dinikmati middleman berkisar 10% hingga 30%. Jika diakumulasi, nilainya mencapai sekitar Rp313,08 triliun, angka yang dinilai sebagai kebocoran besar dalam sistem pangan nasional.

Lewat skema Koperasi Desa Merah Putih, alur distribusi dipangkas drastis, dari petani langsung ke koperasi di desa, lalu ke konsumen akhir. Dengan pola ini, margin diperkirakan menyusut menjadi sekitar Rp50 triliun. Artinya, ada potensi sekitar Rp263 triliun yang bisa dialihkan kembali ke petani dan ekonomi desa.

"Inilah dibangun Koperasi Merah Putih. Dari petani, koperasi langsung di desa, ke konsumen. Artinya apa? Kalau ini untung koperasi Rp50 triliun, ini (potensi margin) Rp263 triliun, ini dibagi ke petani pendapatan, dan ini menjadi daya beli. NTP (nilai tukar petani) naik, ini juga daya beli naik," kata Amran saat meninjau Gudang JDP Karawang 1 Logistic Park di Karawang, Kamis (23/4/2026).

Data Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 berada di level 125,35, turun tipis 0,08% dibandingkan bulan sebelumnya. Pemerintah berharap model distribusi baru ini bisa membalik tren tersebut.

Tak hanya soal efisiensi, Amran juga menyoroti praktik curang di lapangan, termasuk manipulasi kualitas beras yang dijual dengan harga tidak sesuai. Menurutnya, kondisi ini makin menekan konsumen sekaligus merugikan petani.

"Middleman, nanti solusi tercepatnya adalah memang koperasi," imbuhnya.

Koperasi Desa Merah Putih juga diproyeksikan menjadi penyerap utama hasil pertanian melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan adanya offtaker yang jelas, produksi petani diharapkan tidak lagi terbuang akibat kelebihan pasokan.

"MBG, offtaker dari 160 juta petani Indonesia. Offtaker-nya. Jadi dia membeli, tidak lagi ada kita dengar baru-baru ini, tomat dibuang. Kenapa? Ada yang menunggu MBG. Jadi MBG tidak berdiri sendiri," jelasnya.

Lebih jauh, pemerintah melihat penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi perdesaan. Jika perputaran uang terus terjadi di desa, dampaknya diyakini bisa berlipat hingga ribuan triliun rupiah, sekaligus menahan aliran ekonomi agar tidak terus tersedot ke kota.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Zulhas Beberkan Update Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih Awal 2026


Most Popular
Features