MARKET DATA

BI Tahan Suku Bunga-Defisit APBN Terjaga, Airlangga: Sinyal Positif

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
23 April 2026 11:25
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya dan Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan konferensi pers Terkait putusan terbaru dari Supreme Court Amerika Serikat mengenai kebijakan tarif global, Indonesia siap dengan segala kemung
Foto: Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya dan Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan konferensi pers Terkait putusan terbaru dari Supreme Court Amerika Serikat mengenai kebijakan tarif global, Indonesia siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. (Instagram/sekretariat.kabinet)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia mendukung langkah Bank Indonesia yang kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada April 2026. Level ini sudah ditahan selama 7 bulan berturut-turut oleh BI untuk menjaga stabilitas kurs.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ditahannya suku bunga acuan oleh bank sentral merupakan sinyal positif untuk pasar keuangan di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

"BI mempertahankan BI Rate ini sinyal positif," kata Airlangga dalam konferensi pers realisasi investasi kuartal I-2026, Kamis (23/4/2026).

Ia menekankan, selain kebijakan moneter yang mampu mengelola tekanan global, pemerintah hingga saat ini juga masih mampu menjaga defisit APBN di level yang rendah, yakni 0,93% dari PDB.

Menurutnya, kemampuan pengelolaan fiskal ini juga menjadi sinyal yang baik ke pada pelaku ekonomi di dalam maupun luar negeri bahwa pemerintah masih bisa terus melakukan ekspansi fiskal secara terukur, meskipun tekanan ekonomi global mulai mendorong kenaikan harga, khususnya untuk komoditas energi.

"Defisit APBN terjaga di 0,93% dari PDB, jadi disiplin fiskal dijaga di tengah ekspansi yang terukur," paparnya.

Lembaga keuangan asing seperti JPMorgan kata dia juga telah mengafirmasi sinyal positif ini dengan menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki daya tahan tinggi, termasuk ketahanan energi meski jalur utama energi dunia, seperti Selat Hormuz terganggu akibat perang Iran dengan AS-Israel di kawasan Timur Tengah.

"Baru-baru ini JPMorgan juga merilis Indonesia adalah negara yang punya ketahanan energi, artinya Indonesia adalah negara kedua di bawah Afrika Selatan yang punya resiliensi terhadap goncangan energi," paparnya

(arj/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya: Saya Kirim Orang ke RDG BI, Biar Lebih Sinkron


Most Popular
Features