Avtur Menggila, Maskapai Ini Pangkas 20.000 Jadwal-Tutup Anak Usaha
Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai Jerman, Lufthansa, memangkas sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober 2026. Langkah ini diambil seiring lonjakan harga bahan bakar jet akibat perang Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Grup Lufthansa menyebut pemangkasan rute, terutama dari hub utama di Frankfurt dan Munich, ditujukan untuk mengurangi biaya sekaligus menghemat sekitar 40.000 metrik ton bahan bakar jet.
Selain itu, perusahaan juga menutup anak usaha regionalnya, CityLine, pekan lalu sebagai bagian dari efisiensi. Konsolidasi jaringan Eropa turut melibatkan sejumlah maskapai di bawah grup, seperti Lufthansa Airlines, Austrian Airlines, Brussels Airlines, SWISS, dan ITA Airways, termasuk operasional di hub Brussels, Roma, Wina, dan Zurich.
Lonjakan harga bahan bakar menjadi tekanan utama industri penerbangan. Sejak akhir Februari, harga bahan bakar jet global melonjak dari sekitar US$99 per barel (Rp1,68 juta) menjadi US$209 per barel (Rp3,55 juta). Kenaikan tajam ini dipicu konflik di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kondisi ini mulai dirasakan penumpang, dengan berkurangnya pilihan penerbangan dan meningkatnya tarif, terutama menjelang musim liburan musim panas. Sejumlah maskapai juga menaikkan biaya tambahan seperti bagasi dan fuel surcharge.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan stok bahan bakar jet di Eropa saat ini hanya cukup untuk sekitar enam minggu. Jika pasokan tidak membaik, maskapai diperkirakan akan terus memangkas rute.
Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menegaskan dampak konflik ini tidak bersifat sementara. "Ini bukan kenaikan harga jangka pendek dan kecil," ujarnya, seperti dikutip The Associated Press, Kamis (23/4/2026).
Ia juga mengungkapkan perang tersebut membebani Eropa sekitar 500 juta euro per hari, setara US$600 juta atau sekitar Rp10,2 triliun. "Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, situasinya masih buruk," tambahnya.
Jørgensen menyebut pemerintah Uni Eropa "sangat khawatir" terhadap potensi kelangkaan bahan bakar jet. Meski berbagai langkah telah dilakukan, Eropa dinilai masih berada dalam posisi defensif menghadapi krisis energi ini.
Di sisi lain, Lufthansa memastikan pasokan bahan bakarnya masih aman untuk beberapa minggu ke depan. Perusahaan juga tengah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan selama musim panas, termasuk pengadaan bahan bakar secara langsung.
Berdasarkan data Cirium, hampir seluruh dari 20 maskapai terbesar dunia turut memangkas jadwal penerbangan pada Mei. Maskapai seperti Delta Air Lines, United Airlines, American Airlines, Air Canada, Emirates, Qatar Airways, Air China, British Airways, dan Air France-KLM juga melakukan penyesuaian serupa.
Maskapai lain pun mengambil langkah efisiensi. Edelweiss Air menghentikan rute ke Denver dan Seattle, serta mengurangi penerbangan ke Las Vegas. Air New Zealand bahkan memangkas sekitar 4% jadwal penerbangannya pada Mei dan Juni.
Di Amerika Serikat, Delta Air Lines membatalkan rencana penambahan kapasitas pada Juni, sehingga jumlah kursi yang tersedia sekitar 3,5% lebih rendah dari target awal.
Sementara itu, tekanan biaya bahan bakar juga memukul proyeksi keuangan maskapai. United Airlines memangkas estimasi laba tahunannya menjadi US$7-US$11 per saham, turun dari proyeksi sebelumnya US$12-US$14 per saham.
Kondisi ini menegaskan industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan berat, dengan ketidakpastian harga energi yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka panjang.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]