Banyak Lulusan Susah Cari Kerja, Prabowo Dorong Vokasi Jadi Solusi

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 22/04/2026 13:40 WIB
Foto: Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri) dan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi persoalan klasik di Indonesia. Tak sedikit lulusan yang kesulitan menembus pasar kerja karena kompetensi yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Kondisi ini mendorong pemerintah memperkuat pendidikan vokasi sebagai jembatan untuk menutup celah tersebut.

Kementerian Perindustrian melihat, persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut karena berdampak langsung pada daya saing tenaga kerja nasional. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi kini ditempatkan sebagai salah satu prioritas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan lulusan pendidikan memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan industri, baik di dalam negeri maupun global.


"Bapak Presiden menekankan bahwa pendidikan vokasi harus menjadi prioritas nasional agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun pasar global," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin memperkuat peran unit pendidikan vokasi yang dibinanya agar lebih adaptif terhadap perkembangan industri. Kurikulum hingga pola pembelajaran dirancang semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha, sehingga lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang siap digunakan.

Saat ini, Kemenperin membina 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK vokasi industri yang setiap tahunnya menghasilkan calon tenaga kerja industri yang siap kerja serta memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Mayoritas lulusan unit pendidikan tersebut telah terserap di industri, sementara sisanya memperoleh pekerjaan paling lama enam bulan setelah kelulusan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menyebutkan bahwa pendekatan ini mulai menunjukkan hasil, terlihat dari tingkat penyerapan lulusan yang cukup tinggi.

"Tingkat serapan lulusan ke industri pada tahun 2025 mencapai 68 persen sesaat setelah lulus, dan diproyeksikan mencapai 100 persen dalam waktu enam bulan setelah kelulusan," ungkap Doddy.

Dari data pada Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) tahun 2025, tercatat sebanyak 82,8 ribu pendaftar untuk politeknik dan akademi komunitas, serta 28,8 ribu pendaftar untuk SMK. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencatat sekitar 60 ribu pendaftar politeknik dan akademi komunitas serta 23,5 ribu pendaftar SMK.


(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kata Purbaya Soal Pajak Mobil Listrik Tak Lagi Gratis