BBM Non-Subsidi Naik, Bagaimana Nasib Rakyat Papua?
Yahukimo, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi menaikkan harga BBM non-subsidi sebagai respons dari melonjaknya harga minyak dunia imbas gejolak geopolitik di Iran. Bagaimana imbas kenaikan tersebut terhadap perekonomian di Papua?
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan bahwa konsumsi BBM di wilayah Papua masih didominasi BBM subsidi, karenanya kenaikan harga untuk jenis bahan bakar non-subsidi tidak banyak berpengaruh terhadap perekonomian daerah.
"Kalau yang non-subsidi mungkin di sini tidak ada yang menggunakan, bahkan mungkin Pertamax turbo saja jarang yang menggunakan itu di sini. Saya kira tidak banyak berpengaruh," kata Djamhari, saat memberikan keterangan pers di sela-sela kunjungan kerja di Provinsi Papua Pegunungan bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Rabu (21/4/2026).
Lebih lanjut, dia memastikan bahwa pemerintah akan terus menjaga pasokan BBM subsidi agar pembangunan di wilayah timur Indonesia tidak terganggu.
Sebelumnya, Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi per 18 April. Untuk regional Maluku dan Papua, kenaikan ini hanya berlaku bagi BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite,dan Pertamax Dex.
Berikut adalah harga baru BBM non-subsidi untuk regional Maluku dan Papua per 18 April 2026:
- Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.850 per liter dari harga sebelumnya Rp13.350 per liter.
- Dexlite naik menjadi Rp24.150 per liter dari harga sebelumnya sebesar Rp14.500 per liter.
- Pertamina Dex naik menjadi Rp24.450 per liter dari harga sebelumnya Rp14.800 per liter.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahdalia mengatakan pemerintah akan terus mengevaluasi harga BBM berdasarkan pergerakan harga minyak dunia.
"Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harganya (harga minyak) turun, ya nggak naik (harga BBM). Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian," ungkap Bahlil di Kementerian ESDM.
(dag/dag) Add
source on Google