Kemenperin Panggil Pengusaha Plastik, Temukan Fakta Sebenarnya

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 21/04/2026 18:45 WIB
Foto: Plt. Dirjen Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam diskusi dengan media, Selasa (21/4/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku industri, khususnya sektor makanan dan minuman. Namun pemerintah menilai kondisi tersebut belum menjadi krisis, melainkan masih pada tahap antisipasi.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan stok bahan baku plastik yang diperkirakan hanya cukup untuk jangka pendek. Kondisi ini memicu spekulasi di pasar.

"Industri khawatir stoknya ini hanya cukup 1 sampai 2 bulan, itu yang menjadi perhatian," kata Plt. Dirjen Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam diskusi dengan media, Selasa (21/4/2026).


Kemenperin pun mengumpulkan pelaku usaha plastik pekan lalu, hasilnya menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku sebenarnya masih aman. Diskusi tersebut melibatkan seluruh rantai industri plastik.

"Dalam rapat, semua pelaku industri menyampaikan bahwa bahan baku tersedia, jadi tidak ada perdebatan soal ketersediaan," jelasnya.

Pemerintah kini fokus menjaga stabilitas harga agar tidak melonjak tajam. Salah satu opsi yang dibahas adalah intervensi pada komponen biaya impor bahan baku.

"Yang penting ketersediaan dulu, soal harga nanti dicarikan solusi, termasuk kemungkinan kebijakan bea masuk," kata Putu.

Di tengah situasi ini, Kemenperin mulai mendorong diversifikasi kemasan sebagai langkah mitigasi. Salah satu yang didorong adalah penggunaan bahan berbasis kertas.

"Kita dorong penggunaan paperboard yang berbasis kertas, karena ini sudah banyak digunakan dan cukup kompetitif," ungkapnya.

Saat ini, porsi kemasan berbahan kertas sudah mencapai hampir sepertiga dari total penggunaan di industri makanan. Angka ini dinilai masih bisa ditingkatkan.

"Sekarang kemasan kertas itu sekitar 28%, sementara plastik masih sekitar 48%," jelas Putu.

Selain kertas, alternatif lain seperti kemasan kaca juga mulai kembali dilirik. Pemerintah melihat peluang peningkatan penggunaan dalam beberapa tahun ke depan.

"Penggunaan kaca sekarang masih 2-3%, tapi kalau bisa naik ke 5% itu sudah sangat bagus untuk mendorong industrinya," ujarnya.

Namun ia mengakui, tidak semua alternatif bisa langsung menggantikan plastik, terutama untuk produk yang membutuhkan daya tahan terhadap cairan dan minyak.

"Untuk kemasan ramah lingkungan ini masih perlu peningkatan teknologi, terutama untuk menahan air, minyak, dan kelembaban," sebut Putu.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Mendag Budi: Bahan Baku Plastik dari India-AS Segera Datang