BBM Baru B50 Mulai Uji Coba ke Kendaraan, Ini Hasilnya ke Mesin
Lembang, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan uji coba yang telah dilakukan pada campuran bahan bakar minyak (BBM) ke Biodiesel dengan konsentrasi 50% (B50). Tercatat, hasil dari uji coba tersebut berjalan positif untuk mesin kendaraan.
Dari pengujian tersebut membuktikan bahwa penggunaan campuran minyak sawit sebesar 50% mampu menurunkan kadar sulfur hingga setengahnya atau mendekati standar emisi Euro-4.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa pengujian di sektor otomotif telah mencapai target jarak tempuh 40.000 kilometer tanpa ditemukan kendala teknis pada mesin. Adapun, seluruh rangkaian uji coba di enam sektor berbeda saat ini terus berjalan sesuai jadwal guna memastikan kesiapan implementasi secara nasional.
"Kalau campurannya 50%, sulfurnya turun jadi 50%-nya. Gak ada kandungan sulfurnya kan terus dicampur menjadi hanya sekitar kita dari berapa dari angka sulfur kandungan sulfur di B0 menjadi setengahnya. Kira-kira sih mendekati Euro-4," ujarnya di Area Pencampuran B50, di Wisma Balitsa, Lembang, Selasa (21/4/2026).
Dari sisi teknis, hasil pengujian menunjukkan kandungan air (water content) pada B50 berada di level 208,81 ppm, atau di bawah ambang batas maksimum 300 ppm. Hasil uji tersebut juga menunjukkan tidak adanya aktivitas penggantian filter mesin selama masa uji coba.
Eniya menyebutkan hal itu menandakan karakteristik bahan bakar tersebut aman bagi mesin diesel.
"Itu berarti di bawah 300 ppm. Lebih bagus karena lebih rendah lebih bagus. Kalau lebih banyak air itulah yang sering disebutkan performa mesin. Jadi kita tekankan kandungan air itu makin sedikit makin sedikit. Nah ini performa mesin tadi dilaporkan tidak ada ganti filter," jelas Eniya.
Pengujian tersebut melibatkan sembilan unit kendaraan yang mencakup pabrikan asal Jepang dan Eropa seperti Mercedes-Benz serta UD Trucks. Berdasarkan catatannya, uji coba tersebut menunjukkan konsumsi bahan bakar pada kendaraan penumpang tetap efisien dan masih sesuai dengan klaim spesifikasi dari pabrikan.
"Tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai. Jadi kalau klaimnya 11 ini tadi 11,04 gitu jadi angkanya malah berubah cuma di dua digit terakhir jadi sesuai klaim pabrikan malahan. Itu bisa kita pastikan," tambahnya.
Spesifikasi teknis B50 juga mencatatkan peningkatan kualitas pada parameter monogliserida yang turun menjadi maksimum 0,47 persen massa dibandingkan B40. Selain itu, stabilitas oksidasi ditingkatkan menjadi minimal 900 menit untuk memastikan ketahanan bahan bakar selama proses penyimpanan dan penggunaan.
Selain otomotif, pengujian B50 dilakukan secara serentak di sektor pertambangan, alat pertanian, kelautan, pembangkit listrik, hingga kereta api. Pihaknya memproyeksikan seluruh hasil pengujian tersebut akan rampung pada bulan Mei mendatang.
Dengan begitu, program mandatori B50 yang direncanakan mulai Juli 2026 tersebut diproyeksikan bisa memberikan dampak ekonomi dengan potensi penghematan devisa negara mencapai Rp 157,28 triliun. Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 ditargetkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026.
Masa transisi dari B40 menuju B50 diperkirakan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dengan cakupan pengujian di enam sektor utama. Sektor otomotif ditargetkan rampung pada Juni 2026, sementara sektor alat berat, pertanian, kereta api, angkutan laut, dan pembangkit listrik akan diselesaikan secara bertahap hingga Desember 2026.
"Juli sudah selesai tiga sektor. Jadi otomotif selesai, tambang selesai, maritim selesai. Yang kereta minggu depan kita jalankan menggunakan rute dari Yogya ke Pasar Senen dari Stasiun Lempuyangan ke Pasar Senen itu nanti terus menerus," pungkas Eniya.
(pgr/pgr) Add
source on Google