MARKET DATA

Likuditas Dolar AS Ketat, Yuan Bisa Jadi Opsi Sumber Pendanaan Baru RI

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
20 April 2026 11:45
U.S. Dollar and Chinese Yuan banknotes are seen in this illustration taken January 30, 2023. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/DADO RUVIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengungkapkan, likuiditas dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah mengetat, membuat pendanaan yang bersumber dari greenback mahal bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia menyebut terjadi kecenderungan penurunan suplai dolar global, seiring dengan pengetatan likuiditas, meningkatnya kebutuhan pembiayaan domestik Amerika Serikat, serta perubahan perilaku investor global.

Di sisi lain, muncul dinamika baru dari internasionalisasi mata uang Tiongkok, khususnya yuan China atau CNH (offshore renminbi), yang mulai mengambil peran lebih besar dalam perdagangan dan pembiayaan lintas negara.

"Kita melihat dua arus besar yang bergerak berlawanan: suplai dolar global yang semakin terbatas, sementara CNH mulai diperluas penggunaannya dalam perdagangan dan pembiayaan. Ini menciptakan ketidakseimbangan baru, tapi sekaligus membuka peluang strategis," kata Fakhrul melalui keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Fakhrul menilai kondisi ini bukan sekadar fenomena pasar, melainkan awal dari perubahan arsitektur keuangan global. Namun, peluang tersebut tidak akan otomatis menguntungkan semua negara bila tak mampu dimanfaatkan dengan baik.

"Ini bukan perubahan yang pasif. Ini perubahan yang menuntut eksekusi. Negara yang tidak siap akan terjebak dalam biaya pendanaan yang semakin mahal dan volatilitas yang lebih tinggi," tegasnya.

Dalam konteks Indonesia, ia menilai pendekatan kebijakan ke depan harus jauh lebih progresif dan presisi, khususnya dalam membangun arsitektur pendanaan alternatif di luar ketergantungan terhadap dolar AS.

Ia menganggap, Indonesia harus melakukan penguatan kebijakan untuk merespons fenomena global ini, seperti penguatan skema local currency settlement (LCT) dalam perdagangan bilateral, eksplorasi penggunaan mata uang dengan biaya dana lebih rendah seperti CNH dalam pembiayaan, pendalaman pasar keuangan domestik berbasis rupiah, terutama instrumen jangka panjang, serta diversifikasi basis investor dan sumber likuiditas.

"Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi price taker dalam sistem keuangan global. Kita harus mulai menjadi arsitek, atau setidaknya co-architect, dari sumber pendanaan kita sendiri," ujar Fakhrul.

Ia juga mengingatkan fragmentasi global yang saat ini terjadi bukanlah gangguan sementara, melainkan fase transisi menuju sistem yang lebih multipolar. Dalam sistem seperti ini, akses terhadap likuiditas dan pembiayaan akan semakin ditentukan oleh jaringan bilateral, regional, dan fleksibilitas kebijakan masing-masing negara.

"Kalau kita masih membaca dunia dengan kacamata lama, bahwa likuiditas global akan selalu tersedia dan murah, seperti belasan tahun terakhir, kita akan tertinggal. Dunia ke depan adalah dunia di mana likuiditas harus diperjuangkan, bukan diasumsikan," katanya.

Lebih lanjut, Fakhrul menekankan urgensi bagi pemerintah dan otoritas untuk menyampaikan arah kebijakan secara lebih eksplisit dan strategis, terutama dalam menjawab perubahan struktur global ini.

"Pasar hari ini tidak hanya menilai stabilitas, tetapi juga arah. Tanpa komunikasi yang jelas tentang bagaimana Indonesia akan beradaptasi dengan fragmentasi global dan perubahan likuiditas ini, kita berisiko kehilangan momentum," tambahnya.

Menurut Fakhrul, peluang dari perubahan ini sangat besar, namun juga disertai risiko yang tidak kecil apabila tidak direspons dengan tepat. Ia menganggap, kini momen yang sangat menentukan bagi RI dalam memperkuat pendanaan baru.

"Ketidakseimbangan antara menurunnya suplai dolar global dan meningkatnya peran CNH adalah peluang strategis, tapi hanya bagi mereka yang siap. Kalau kita tidak bergerak dengan cepat dan presisi, yang dipertaruhkan bukan hanya pertumbuhan, tapi masa depan struktur perekonomian kita sendiri. Kalau kita hendak menumbuhkan ekonomi sampai 8%, kita harus selesaikan masalah pendanaannya yang biasa menjadi masalah bertahun-tahun, dan dalam hal ini, membuka pembiayaan CNH adalah solusi" tuturnya.

Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, pangsa yuan China dalam cadangan devisa global naik tipis menjadi 1,95% pada kuartal IV-2025, dari 1,92% pada kuartal III-2025. Kenaikannya memang masih kecil dan porsinya jauh di bawah dolar maupun euro, tetapi arah pergerakannya tetap penting karena menunjukkan yuan mulai perlahan menambah ruang dalam komposisi cadangan devisa bank sentral dunia.

Sementara itu, pangsa cadangan devisa dunia yang berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,77% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dibanding 56,93% pada kuartal III-2025.

Jika ditarik sepanjang 2025, arahnya juga sama. Pada kuartal I-2025, porsi dolar masih berada di kisaran 57,79%, lalu turun ke 56,32% pada kuartal II-2025, sebelum bergerak di sekitar 56,9% pada paruh kedua tahun lalu dan menutup tahun di 56,77%. Dengan level ini, porsi dolar berada di titik terendah sejak pertengahan 1990-an. Ini berarti dominasi dolar memang masih besar, tetapi terus terkikis secara bertahap.

Meski begitu, posisi dolar AS belum akan mudah tergeser dalam waktu dekat. Salah satu alasannya, negara-negara Teluk masih sangat terkait dengan dolar, baik melalui sistem nilai tukar maupun besarnya simpanan aset mereka dalam mata uang AS tersebut. Kondisi ini membuat pergeseran menjauh dari dolar tidak bisa dilakukan secara cepat. Jika dipaksakan, langkah itu justru berisiko menekan stabilitas kurs negara-negara di kawasan Teluk sendiri.

Di sisi lain, dolar juga masih berpeluang mempertahankan dominasinya dalam perdagangan minyak jika Amerika Serikat tetap mampu menjaga posisi kuat dalam pasokan energi global. Selama pengaruh AS dan negara-negara Barat dalam rantai pasok energi dunia masih besar, dolar masih punya ruang untuk tetap menjadi mata uang utama dalam perdagangan minyak.

Itu sebabnya, meski tekanan terhadap petrodollar mulai terlihat, dolar belum benar-benar tertandingi. Sistem lama memang mulai retak, tetapi belum runtuh.

(arj) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Banyak Cari Yuan China, Stok di Money Changer Kosong!


Most Popular
Features