Warga yang mengungsi akibat konflik di Lebanon mulai kembali ke pinggiran selatan Beirut pada Jumat (17/4/2026), di tengah kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang baru berlangsung 10 hari masih berpotensi gagal. (REUTERS/Louisa Gouliamaki)
Sejumlah warga tampak meninjau kondisi rumah mereka, memastikan apakah bangunan masih berdiri setelah wilayah tersebut dihantam serangan selama lebih dari enam minggu. Namun, tidak sedikit yang memilih untuk tidak menetap kembali dalam waktu dekat karena situasi keamanan yang dinilai belum stabil. (REUTERS/Louisa Gouliamaki)
Kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hizbullah kini dipenuhi puing-puing beton, menjadi penanda kehancuran bangunan akibat serangan intensif Israel. Konflik ini merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas, dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. (REUTERS/Louisa Gouliamaki)
Gencatan senjata antara pemerintah Lebanon dan Israel diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis sebelumnya. Meski demikian, dinamika internal Lebanon turut memperumit situasi. Pemerintah Lebanon diketahui memiliki perbedaan tajam dengan Hizbullah terkait keterlibatan kelompok tersebut dalam konflik, sekaligus mendorong upaya pelucutan senjata secara damai dalam setahun terakhir. (REUTERS/Louisa Gouliamaki)
Di lapangan, kondisi masih jauh dari kondusif. Tentara Lebanon melaporkan adanya pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel, termasuk penembakan sporadis ke sejumlah desa di wilayah selatan. Otoritas militer pun mengimbau warga untuk menunda kepulangan ke daerah tersebut demi keselamatan. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Konflik yang berlangsung telah menimbulkan dampak kemanusiaan signifikan. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 2.100 orang tewas, sementara sekitar 1,2 juta lainnya terpaksa mengungsi. Mayoritas korban dan pengungsi berasal dari komunitas Syiah, yang sebelumnya juga terdampak berat dalam konflik tahun 2024. (REUTERS/Florion Goga)