MARKET DATA

RI Waspada! Industri Otomotif di Thailand Cs Siaga 1 Gelombang PHK

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
17 April 2026 16:45
An employee of Honda Automobile Thailand examines a batch of car ready for export at a factory in Ayuthaya, some 90 kilometers north of Bangkok, 14 July 2006.  The Automotive Industry Club said the high price of oil was forcing banks to tighten requirements on car loans, which account for 70 percent of all car sales in Thailand. Auto sales in Thailand last year jumped 12.4 percent to a record 703,432, beating expectations despite high oil prices and the end of fuel subsidies.    AFP PHOTO / Saeed KHAN (Photo by SAEED KHAN / AFP)
Foto: Ilustrasi Pabrik Otomotif di Thailand. AFP/SAEED KHAN

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Thailand sedang berada di titik krusial. Produksi kendaraan yang mencapai sekitar 1,45 juta unit per tahun kini dihadapkan pada perubahan besar akibat elektrifikasi dan otomatisasi. Perubahan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut nasib hampir satu juta pekerja di sektor tersebut.

Peralihan ke kendaraan listrik (EV) dan penggunaan robot di lini produksi mulai mengubah struktur industri secara fundamental. Kompleksitas kendaraan yang lebih sederhana membuat kebutuhan tenaga kerja ikut berubah. Di sisi lain, tekanan global membuat perusahaan harus tetap efisien dan kompetitif.

IndustriALL Global Union yang merupakan federasi serikat pekerja internasional raksasa menyoroti pentingnya peran serikat pekerja dalam perubahan ini. Apalagi jumlah pekerja otomotif di Thailand mencapai 1 juta orang.

"Dari perspektif serikat pekerja, hal paling mendasar adalah adanya serikat itu sendiri. Perusahaan tidak boleh menutup ruang bagi pekerja untuk memiliki suara kolektif dan terlibat dalam dialog," ujar Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union Georg Leutert dilansir dari podcast organisasi buruh internasional, ILO, Jumat (17/4/2026).

Demokrasi di tempat kerja menjadi krusial dalam menghadapi perubahan besar. Suara pekerja juga harus berperan dalam menentukan arah perusahaan.

"Harus ada pertukaran yang berkelanjutan antara manajemen dan pekerja untuk mencari solusi bersama. Selain itu, perusahaan juga harus melihat dampaknya terhadap masyarakat luas," jelasnya.

Perubahan besar ini juga sudah terlihat di berbagai negara maju. Banyak pekerja otomotif kehilangan pekerjaan akibat pergeseran ke kendaraan listrik yang lebih sederhana.

"Kami melihat lebih dari 100.000 pekerjaan otomotif hilang di Jerman tahun lalu. Tren ini juga terjadi di Amerika Serikat, Jepang, dan negara lainnya," kata Georg.

Ia menilai kompensasi finansial saja tidak cukup untuk menjawab persoalan tersebut.

"Solusi tidak bisa hanya berupa pesangon. Kita harus fokus pada pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan agar pekerja bisa mendapatkan pekerjaan baru," tegasnya.

Di tengah perubahan ini, kolaborasi antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah menjadi faktor penentu. Tanpa pendekatan yang inklusif, transformasi berisiko meninggalkan banyak pekerja.

"Di masa transformasi seperti sekarang, yang paling penting adalah bagaimana perusahaan dan serikat pekerja menyepakati cara mengelola perubahan tanpa semua orang kehilangan pekerjaan," ujar Georg.

(dce) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 7 Produsen Mobil Listrik di RI Disebut Kantongi TKDN Sampai 80%


Most Popular
Features