Seluruh RI Teraliri Listrik 100% di 2029, Pemerintah Gandeng Industri

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Kamis, 16/04/2026 14:35 WIB
Foto: Petugas PLN melakukan penggantian material jaringan listrik untuk meningkatkan layanan listrik dari 12 jam menjadi 24 jam di Desa Sebotok, Sumbawa. (Dok: PT PLN (Persero)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan industri dalam negeri. Terutama untuk mendukung percepatan elektrifikasi nasional, peningkatan efisiensi energi, serta penguatan penggunaan produk dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan ke salah satu industri manufaktur peralatan listrik dan pencahayaan di Tangerang, sebagai bagian dari upaya mendorong kesiapan industri nasional dalam mendukung program strategis sektor ketenagalistrikan.

Dalam kesempatan tersebut, Yuliot menekankan bahwa pemerintah tengah berfokus pada peningkatan rasio elektrifikasi nasional yang saat ini telah mencapai sekitar 98%, dan ditargetkan mencapai 100 persen pada tahun 2029.


"Saat ini rasio elektrifikasi kita sekitar 98%. Kita dari tahun 2025 sudah mulai, sampai dengan 2029 kita akan mentargetkan elektrifikasi untuk seluruh wilayah sekitar 100%. Jadi ini tidak ada lagi daerah-daerah yang gelap. Jadi merdeka dari kegelapan," ungkap Yuliot dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah terus mengakselerasi program listrik desa (Lisdes) sebagai upaya pemerataan akses energi di seluruh wilayah Indonesia.

Pada tahun 2025, program ini mencakup sekitar 1.516 desa sebagai bagian dari target elektrifikasi. Secara keseluruhan, hingga tahun 2029 diperkirakan sekitar 10 ribu desa akan dituntaskan untuk memperoleh akses listrik.

Program elektrifikasi ini juga akan mendorong kebutuhan berbagai infrastruktur ketenagalistrikan dalam skala besar, sehingga membuka peluang keterlibatan industri dalam negeri dalam mendukung penyediaan peralatan dan teknologi kelistrikan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan efisiensi energi melalui pengembangan green building serta pemanfaatan energi baru terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di sektor industri.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk meningkatkan keselamatan instalasi listrik melalui penggunaan perangkat pengaman seperti Residual Current Breaker with Overcurrent (RCBO).

Dalam implementasinya, pemerintah juga mendorong agar kebutuhan perangkat tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri apabila kapasitas produksi telah tersedia.

"Kalau ini bisa diproduksi di sini, kita tidak memberikan kelonggaran untuk melakukan impor dari luar," tegasnya.

Melalui kunjungan ini diharapkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam mendukung agenda transisi energi, pemerataan akses listrik, serta pembangunan sektor ketenagalistrikan yang berkelanjutan di Indonesia dapat diperkuat.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RUPTL 2025-2034 Dikaji Ulang & Disesuaikan Dengan Kebutuhan RI