Nafta Langka-CPO Jadi Penyelamat? Ini Kata Amran, Wamenperin-Pengusaha

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 16/04/2026 12:10 WIB
Foto: Kolase Ilustrasi minyak mentah (fosil) dan cpo. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga nafta yang mendorong mahalnya plastik membuat pemerintah mulai melirik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan substitusi. Wacana ini dinilai menjanjikan, namun masih menyisakan sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan industri hingga pasokan bahan baku.

Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah telah berdampak pada mahalnya nafta sebagai bahan baku plastik. Imbasnya, harga plastik ikut terkerek dan berujung pada kenaikan harga berbagai produk kemasan yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menegaskan, ketersediaan CPO dalam negeri masih sangat mencukupi jika digunakan untuk kebutuhan substitusi nafta.


"Kan, ekspor kita 26 juta ton CPO. Sepakat ya? Kita mau ambil 5,3 juta ton untuk menjadikan biofuel, sekarang B40 menuju B50. Kita tarik 5,3 juta ton, ternyata apa yang terjadi? Karena harga CPO naik, ini sawit dipelihara dengan baik. Pupuknya diperbaiki. Naik berapa? 6 juta ton. 6 juta ton kita belum pakai CPO-nya, sudah naik, ekspor kita jadi 32 juta ton," kata Amran kepada wartawan di kantornya, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga CPO justru mendorong peningkatan produksi karena petani semakin intensif dalam merawat kebun.

"Ya, nggak masalah (produksi substitusi nafta dari CPO). Bahan baku kita cukup. Lebih dari cukup. Ekspor kita 32 juta ton. Kita tarik mau butuh berapa juta ton (untuk substitusi nafta). Asal ini (harga CPO) naik terus, ini produksinya naik," ujarnya.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebut peluang pemanfaatan CPO sebagai pengganti nafta terbuka, meski masih dalam tahap kajian.

"Perlu memang diversifikasi pengganti nafta, baik dari gas maupun dari nabati. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang buat CPO misalnya, memberikan CPO yang kita punya banyak sekali di dalam negeri bisa menjadi bahan pengganti nafta. Tapi ini masih dalam proses kajian semua di masa yang akan datang, mudah-mudahan itu jadi bahan pengganti yang utama," kata Faisol saat ditemui di Kompleks Parlemen beberapa waktu lalu.

Sebagai catatan, nafta adalah salah satu produk turunan minyak bumi fosil. Mengutip situs resmi Chandra Asri, ada 3 jenis nafta sesuai dengan pemanfaatannya.

Selain untuk pembuatan bahan bakar, nafta digunakan sebagai bahan baku pembuatan butadiena, etilena, dan propilena. Yang kemudian diolah lagi untuk pembuatan produk hilir di industri plastik, tekstil, pupuk, cat, juga industri berbasis petrokimia lainnya.

Pengusaha Sawit Kasih Gambaran

Namun, pelaku industri mengingatkan adanya tantangan dari sisi produksi dan biaya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menilai, penggunaan CPO untuk bio nafta memungkinkan, tetapi secara keekonomian masih lebih mahal dibandingkan nafta berbasis minyak bumi.

"Minyak sawit bisa menjadi bio nafta, hanya pasti (harga bio nafta) lebih mahal dari nafta yang berasal dari minyak bumi," kata Eddy kepada CNBC Indonesia, Kamis (16/4/2026).

Tak hanya soal biaya yang lebih mahal, ia juga menyoroti potensi keterbatasan pasokan jika kebutuhan CPO bertambah untuk substitusi nafta.

"(Kalau untuk pasokan) saya belum tahu kebutuhan bio nafta nantinya berapa, tapi saat ini produksi kita masih stagnan, masih di sekitar 50 jutaan ton, untuk implementasi B50 kalau permintaan ekspor naik, kemungkinan kita tidak bisa penuhi. Tapi jika untuk kebutuhan B50 saja cukup," ujarnya.

"Dengan kondisi produksi stagnan memang kalau permintaan naik belum tentu dapat dipenuhi," sambung dia.

Menurut Eddy, stagnasi produksi saat ini salah satunya disebabkan oleh lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Karenanya, ia mendorong agar PSR berjalan lebih baik ke depannya, supaya produktivitas sawit para petani bisa meningkat.

"Saat ini yang menyebabkan produksi stagnan utamanya karena Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang sangat lambat, dengan melakukan PSR otomatis produktivitas akan naik," jelas Eddy.

Dengan demikian, rencana menjadikan CPO sebagai substitusi nafta dinilai punya potensi besar untuk menekan ketergantungan impor bahan baku plastik. Namun, realisasinya masih membutuhkan kesiapan dari sisi produksi, efisiensi biaya, dan percepatan peningkatan produktivitas sawit nasional.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Awas Inflasi Naik Gara-Gara Plastik