Bos Konstruksi-Properti Merapat! Harga Semen Sudah Mulai Naik Segini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 14/04/2026 16:40 WIB
Foto: Ilustrasi Semen (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan biaya energi mulai terasa langsung di industri semen nasional. Tekanan ini tidak hanya berasal dari sisi bahan bakar, tetapi juga menjalar ke seluruh rantai produksi dan distribusi.

Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memaksa pelaku industri melakukan penyesuaian, termasuk pada harga jual produk.

Kenaikan biaya operasional terjadi seiring naiknya harga BBM industri yang menjadi tulang punggung berbagai aktivitas produksi, mulai dari penambangan hingga distribusi.


"Jadi memang saat ini beberapa pabrikan di asosiasi perusahaan semen ini kita lagi mengalami kekurangan batu bara. Kenapa? Karena kan RKAB-nya baru dikeluarkan," katanya usai Halal Bihalal, Selasa (14/4/2026).

Dampak dari kondisi tersebut meluas ke berbagai lini biaya. Aktivitas operasional menjadi lebih mahal karena hampir seluruh alat berat dan proses logistik bergantung pada BBM industri.

"BBM industri ini yang naik banyak, nah ini yang membuat satu mining cost, biaya mining naik. Kemudian alat-alat berat kita seperti dump truck, wheel loader, semuanya pakai BBM industri," ujar Christian.

Tidak hanya di dalam pabrik, tekanan biaya juga terjadi pada sektor logistik. Kenaikan harga bahan bakar kapal dan tongkang membuat biaya distribusi melonjak signifikan.

Kondisi ini membuat perusahaan harus menghitung ulang strategi operasional agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang meningkat.

"Bunker, shipping, barging naik. Jadi tongkang-tongkang, kita bawa semen dan batu bara pakai tongkang dan kapal, itu mengalami kenaikan yang cukup banyak."

Akumulasi dari berbagai kenaikan biaya tersebut akhirnya mendorong penyesuaian harga di pasar, terutama untuk distribusi di luar Pulau Jawa yang memiliki biaya logistik lebih tinggi.

"Ya, jadi saat ini kami sendiri mau nggak mau sudah mulai naik. Jadi sudah mulai naik karena ongkos semua naik banget," ujarnya.

Penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya beli pasar, meskipun tekanan biaya terus meningkat.

Industri juga harus menghadapi tekanan tambahan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang berdampak pada komponen biaya produksi.

"Jadi di kita ya, Indocement, naik kurang lebih sekitar 1.500 sampai 2.000 per bag 50 kilo," kata Christian yang juga Presiden Direktur Indocement.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kupas Uji Daya Tahan Rupiah di Central Banking Forum 2026