Kabar Baik Asia, China Mulai Damai dengan Taiwan
Jakarta, CNBC Indonesia - China akan menerapkan serangkaian langkah untuk meningkatkan pertukaran dengan Taiwan. Hal ini dilaporkan pada hari Minggu, saat hari terakhir kunjungan langka delegasi partai oposisi Taiwan ke China.
Ketua Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun, adalah pemimpin partai pertama yang mengunjungi China dalam satu dekade. Ia sendiri menghadapi kritik di Taiwan karena kunjungan tersebut, di mana dirinya dituduh terlalu pro-Beijing.
Keputusan baru China ini menjadi angin segar bagi Taiwan setelah Beijing memutus kontak tingkat tinggi dengan Taiwan paska kemenangan presiden Partai Progresif Demokratik pada tahun 2016. Partai itu menolak klaim Beijing yang menyatakan bahwa pulau yang memliki pemerintaha sendiri itu, adalah bagian dari wilayahnya.
China pun merilis daftar 10 langkah untuk "mendorong perkembangan damai hubungan lintas selat dan meningkatkan kesejahteraan warga negara". Kantor Urusan Taiwan (TAO) Beijing disebut akan "mendorong dimulainya kembali program percontohan perjalanan individu" ke pulau utama Taiwan bagi penduduk Shanghai dan provinsi Fujian.
"Dalam potensi peningkatan lebih lanjut untuk hubungan perjalanan, TAO mengatakan pihak berwenang akan mendorong pengaktifan kembali sepenuhnya penerbangan langsung antara Taiwan dan berbagai kota, termasuk Urumqi, Xi'an, Harbin, Kunming, dan Lanzhou," tulis Xinhua, dimuat AFP, Senin (13/4/2026).
"China juga akan mengizinkan impor drama, dokumenter, dan animasi Taiwan, meskipun harus berorientasi dengan benar, bermanfaat, dan berkualitas tinggi,", kata Xinhua.
Wakil Ketua KMT Chang Jung-kung mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa langkah-langkah tersebut "sangat disambut baik". Ini, ujar dia, sangat sesuai dengan harapan berbagai sektor di Taiwan.
"Dorongan signifikan bagi perkembangan damai hubungan lintas selat," kata Chang.
Sementara itu, juru bicara kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, mengatakan sebagian besar langkah-langkah tersebut "telah lama mengalami pembukaan dan penutupan yang terputus-putus". Apalagi tak ada mekanisme pasar atau norma internasional.
"Seperti di masa lalu, China sekali lagi gagal mengikuti saluran yang ada untuk bernegosiasi dengan pemerintah kami," kata Kuo dalam sebuah pernyataan.
"Akankah China, kali ini lagi, memperlakukan urusan lintas selat sebagai alat 'pemaksaan ekonomi' dan mengulangi trik lamanya?" tambahnya.
Pertemuan dengan Xi Jinping
Pengumuman itu datang dua hari setelah pertemuan Cheng dengan Presiden Xi Jinping di Beijing Xi mengatakan kepada Cheng selama pembicaraan mereka bahwa "tren umum warga negara di kedua sisi Selat yang semakin dekat, semakin mendekat, dan menjadi bersatu tidak akan berubah".
Cheng menggemakan sentimen itu pada konferensi pers berikutnya, menyerukan generasi muda untuk "menghindari perang" dengan "menentang kemerdekaan Taiwan". Beijing telah meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, melakukan pengerahan jet tempur dan kapal perang hampir setiap hari, serta secara teratur menggelar latihan militer skala besar.
(sef/sef) Add
source on Google