MARKET DATA

Serbuan Merek China Makin Nyata, BYD Cs Gerus Pasar Jepang-Korea

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
11 April 2026 14:20
FILE PHOTO: Chinese auto manufacturer BYD's logo is seen on its electric vehicle BYD Sealion 7 during Indonesia International Motor Show 2026, in Jakarta, Indonesia, February 9, 2026. REUTERS/Willy Kurniawan/File Photo
Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Peta persaingan otomotif nasional semakin ramai. Merek-merek di luar grup Astra menunjukkan taji, terutama dari pemain Jepang non-Astra hingga pabrikan asal China yang mulai mencuri perhatian.

Mitsubishi Motors menjadi kontributor terbesar dari kelompok non-Astra dengan penjualan 26.615 unit sepanjang Januari-Maret 2026. Angkanya relatif stabil, meski sempat turun di Maret menjadi 7.871 unit.

Namun yang paling mencolok datang dari merek China seperti BYD. Bersama Denza, penjualan mereka mencapai 13.590 unit dalam tiga bulan pertama. Meski turun dari 5.271 unit di Januari ke 3.396 unit di Maret, volumenya tetap signifikan untuk pemain yang relatif baru di pasar massal Indonesia.

Sementara itu, Suzuki menunjukkan ketidakstabilan tinggi. Penjualan sempat melonjak ke 9.659 unit di Februari sebelum turun drastis ke 4.552 unit di Maret.

Nama lain seperti Honda dan Hyundai masih tertahan di level moderat, tanpa lonjakan berarti. Di saat yang sama, kategori 'others' atau brand lain yang tidak masuk daftar justru menguat dengan kontribusi 25.100 unit, menggambarkan fragmentasi pasar yang makin luas.

Sementara itu mobil China lainnya juga ikut menjaga pasarnya di Indonesia. Wuling mencatatkan penjualan 3.594 unit dalam periode yang sama. Meski volumenya lebih kecil, Wuling tetap konsisten menjaga kehadiran di pasar massal, termasuk melalui lini kendaraan listrik dan hybrid.

Di sisi lain, Chery membukukan penjualan 3.211 unit. Angka ini menunjukkan stabilitas meski belum mencatat lonjakan besar seperti BYD.

Jika digabungkan, total penjualan tiga merek China ini mencapai lebih dari 20 ribu unit hanya dalam tiga bulan. Angka tersebut mulai mendekati pemain Jepang papan tengah dan menjadi sinyal perubahan struktur pasar, termasuk potensi menggoyang dominasi Astra.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Harga yang lebih kompetitif, teknologi elektrifikasi, serta strategi produk yang lebih berani membuat merek China semakin diterima konsumen Indonesia. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, model mereka sudah masuk daftar mobil terlaris bulanan.

Dengan tren ini, persaingan otomotif nasional tidak lagi sekadar antara pemain Jepang. Kehadiran merek China kini menjadi faktor penentu yang bisa mengubah peta kekuatan industri dalam beberapa tahun ke depan.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Salip Mitsubishi-Suzuki, Penjualan Mobil BYD Buntuti Daihatsu & Toyota


Most Popular
Features