Airlangga & Purbaya Kompak Lawan Bank Dunia, Yakin Ekonomi RI Tangguh
Jakarta, CNBC Indonesia - World Bank atau Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7%,. Adapun, perkiraan Bank Dunia ini turun dari perkiraan pada Oktober 2025 sebesar 4,8%. Penyesuaian proyeksi pertumbuhan ekonomi yang turun ini akibat guncangan energi yang merupakan efek dari perang di Timur Tengah.
Bank Dunia bahkan mengatakan efeknya lebih luas dirasakan di kawasan Asia Pasifik. Dikutip dari East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu (9/4/2026), proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) hanya 4,2%.
Bank Dunia menegaskan pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) melambat pada tahun 2026 dipengaruhi oleh guncangan eksternal.
Pertama, konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga energi yang tajam, misalnya indeks gas alam naik 90 persen, dan minyak naik 30 persen.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memacu inflasi, aktivitas ekonomi juga kemungkinan akan melambat akibat kondisi pembiayaan yang lebih ketat.
Pertumbuhan global yang selama ini tangguh mungkin juga akan terganggu, terutama jika konflik berlanjut atau meningkat, yang menyebabkan dampak tidak langsung pada kawasan Asia Pasifik. Penurunan pertumbuhan G-7 sebesar 1 poin persentase dapat mengurangi output negara-negara berkembang di Asia Pasifik sekitar 0,6 poin persentase.
Faktor kedua, tarif ekspor ke Amerika Serikat tetap di atas level tahun 2024 meskipun ada putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini, yang mengurangi tarif tetapi juga menyebabkan penyempitan keunggulan tarif negara-negara Asia Pasifik relatif terhadap China.
Pada saat yang sama, kebijakan perdagangan AS berkontribusi pada meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi, yang menghambat investasi dan mendorong pergeseran ke arah pekerjaan jangka pendek dan informal.
"Pertumbuhan regional diproyeksikan melambat menjadi 4,2% pada tahun 2026 dari 5,0% pada tahun 2025, karena guncangan energi akibat konflik Timur Tengah memperburuk dampak buruk dari peningkatan hambatan perdagangan, ketidakpastian kebijakan global, dan kesulitan ekonomi domestik," ujar Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, dalam rilis, Rabu (9/4/2026).
Bank Dunia Salah Hitung
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi proyeksi Bank Dunia degan lebih keras. Purbaya menilai Bank Dunia kemungkinan salah hitung. Pada kuartal I-2026 saja pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bisa mencapai 5,5%.
"Kan triwulan pertama saja mungkin 5,5%, 5,6% atau lebih. Berarti World Bank menghitung kita mau resesi, turun ke bawah sekali, setelah itu kalau rata-ratanya 4,6%. Saya pikir World Bank salah hitung," kata Purbaya kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).
Menurut Purbaya, proyeksi Bank Dunia dipengaruhi oleh kondisi kenaikan harga minyak dunia dan perang di Timur Tengah. Dia yakin proyeksi Bank Dunia ini akan diubah lagi jika situasi sudah kembali normal.
Namun demikian, Purbaya menilai Bank Dunia telah melakukan dosa besar karena memberikan sentimen negatif bagi Indonesia.
"Kalau sebulan dari sini harga minyak turun ke level normal lagi, World Bank pasti akan ubah prediksinya. Tapi dia sudah melakukan dosa besar, dia menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal, kalau dia ubah prediksi ekonominya lagi," tegas Purbaya.
Ekonomi RI Masih di Atas Dunia
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi proyeksi ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia tumbuh 4,7% pada 2026.
Airlangga mengatakan situasi perang dan ketidakpastian membuat Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Dengan situasi perang kan ya mereka menurunkan (proyeksi ekonomi)di berbagai wilayah," katanya saat dijumpai awak media di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Kamis (8/4/2026).
Namun, proyeksi ekonomi Indonesia tersebut menurut Airlangga masih optimis, karena berada di atas pertumbuhan global.
"Tapi kalau kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan global rata-rata. Pertumbuhan global rata-rata kan di 3,4, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal pertama lihat aja hasilnya seperti apa," katanya.
Airlangga optimistis ekonomi Indonesia pada 2026 akan tumbuh sama atau lebih tinggi dari 5,4%.
"Untuk kuartal pertama kita optimis lebih besar atau sama dengan 5,5%. Kemudian kalau di akhir tahun lebih besar sama dengan 5,4%, sesuai dengan perkiraan APBN," katanya.
Namun katanya tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian, tergantung dari dinamika global.
"Semua ini masih tergantung daripada kondisi geopolitik masih stabil atau tidak. Yang sekarang kan dalam kondisi perang dan dua minggu lagi tentu akan ada dinamika. Jadi selama ini kita terus saja meng-adjust terhadap dinamika yang ada," ucap Airlangga.
Proyeksi Bank Dunia Beda dari IMF
Proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan Dana Moneter Internasional alias IMF.
Dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1%, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5%.
IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencanya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun ini, yang mengompensasi risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan global.
Perlu digarisbawahi, proyeksi IMF tersebut dilakukan sebelum perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Sehingga belum mencerminkan efek negatif ke perekonomian Indonesia.
Terbaru, IMF mengatakan setiap perang bersenjata pecah efeknya langsung mengguncang kehidupan dan mata pencaharian masyarakat setempat. Namun, dampaknya bisa makin meluas dengan risiko rambatan yang menjalar dari berbagai jalur.
"Kita telah melihat gangguan yang signifikan," kata Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack dalam konferensi pers, dikutip Jumat (10/4/2026).
Karena Timur Tengah merupakan salah satu negara produsen utama migas dunia, maka efek terbesar rambatannya akan mempengaruhi harga-harga komoditas energi. Apalagi, kawasan itu menjadi salah satu jalur utama pasokan minyak mentah dan gas dunia, yakni Selat Hormuz.
Tatkala Selat Hormuz tertutup imbas dari peperangan Iran dengan AS-Israel, IMF mencatat dampaknya langsung memutus akses terhadap sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG yang diangkut melalui laut.
"Infrastruktur energi di kawasan Teluk dan Iran telah mengalami kerusakan, dan hal ini mengganggu produksi minyak dan gas," kata Kozack.
Terlepas dari itu, ia menyebut, setidaknya ada tiga jalur utama yang membuat konflik di Timur Tengah berefek langsung ke perekonomian dunia secara luas, mulai dari tingkat negara, kawasan, sampai global. Jalur risiko rambatan ini tengah menjadi perhatian utama IMF.
Jalur risiko pertama adalah melalui gejolak harga komoditas. Dampak terhadap harga komoditas tentu akan ditentukan oleh berapa lama Selat Hormuz ditutup serta sejauh mana kerusakan pada fasilitas produksi hidrokarbon di kawasan tersebut.
Kozack menyebut, harga minyak dan gas telah meningkat lebih dari 50% dalam sebulan terakhir hingga melampaui US$ 100 per barel. Selain itu, pengiriman pupuk juga terganggu.
Hal ini, beriringan dengan gangguan transportasi, meningkatkan risiko kenaikan harga pangan. Kenaikan ini bisa cukup besar, tergantung pada durasi dan intensitasnya," ucap Kozack.
Untuk masing-masing negara dan kawasan, ia menilai, dampak spesifik dari kenaikan harga komoditas akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing negara.
Adapun untuk jalur risiko kedua adalah guncangan terhadap tekanan inflasi dan ekspektasi inflasi. Jika berlangsung lama, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi utama (headline inflation) menjadi lebih tinggi.
"Dan yang juga akan dipantau secara cermat oleh kami serta bank sentral adalah apakah akan terjadi efek lanjutan (second-round effects) terhadap inflasi yang lebih luas, serta yang sangat penting, dampaknya terhadap ekspektasi inflasi. Ini merupakan jalur lain yang dapat mempengaruhi perekonomian global secara keseluruhan," ungkapnya.
Secara historis, Kozack mengatakan, jika melihat guncangan harga energi, terdapat pola umum bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% selama setahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin dan menurunkan output global antara 0,1 hingga 0,2%.
"Sekali lagi, ini adalah aturan praktis dan berlaku untuk kenaikan harga minyak yang bersifat persisten," tegasnya.
Terakhir, jalur risiko rambatan ketiga adalah kondisi keuangan. Kozack menyatakan, telah melihat reaksi di pasar global terhadap perang itu, mulai dari harga saham global menurun, hingga imbal hasil obligasi meningkat di berbagai negara, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa, serta di negara berkembang.
"Volatilitas meningkat. Dolar AS menguat, sementara mata uang sejumlah negara berkembang melemah. Inilah gambaran kondisi saat ini dan jalur-jalur dampaknya," tutur Kozack.
Meski begitu, ia menekankan, dampak keseluruhan dari peperangan yang diletuskan Presiden AS Donald Trump itu tentu akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik.
"Kami akan memberikan penilaian terbaru dalam laporan World Economic Outlook pada bulan April, yang akan mencakup analisis komprehensif baik di tingkat negara maupun global dan regional," paparnya.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]