Bank Dunia Blak-blakan Soal Dampak AI Bagi Ekonomi RI Cs
Jakarta, CNBC Indonesia - World Bank atau Bank Dunia menilai adaptasi kecerdasan buatan (AI) berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di seluruh kawasan Asia Pasifik (EAP).
Dengan catatan, realisasi pertumbuhan ekonomi ini bergantung pada apakah AI sukses memberikan peningkatan produktivitas yang luas secara global, dan seberapa efektif ekonomi EAP menyerap peningkatan ini mengingat infrastruktur, sumber daya manusia, dan dukungan kelembagaan .
Berdasarkan laporan Bank Dunia untuk regional EAP yang dirilis Rabu (8/4/2026), investasi swasta global dalam AI generatif telah melonjak dari hampir nol pada 2019 menjadi US$34 miliar pada 2024. Hal ini tampak pada masifnya pembangunan data center atau pusat data.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia memimpin dengan sekitar 700 megawatt (MW) yang beroperasi dan proyek pusat data yang melebihi 3.000 MW; Indonesia dan Thailand juga mengalami investasi pusat data yang signifikan.
Sementara itu, ekspor terkait AI telah berkembang pesat di beberapa negara EAP dalam beberapa tahun terakhir. Barang setengah jadi, terutama semikonduktor, tetap menjadi tulang punggung perdagangan terkait AI di seluruh wilayah EAP, meskipun ekspor peralatan seperti perangkat keras pusat data telah tumbuh secara signifikan.
Vietnam dan Malaysia menonjol, dengan pangsa ekspor AI meningkat dari sekitar 20% dan 28% persen dari PDB pada 2023, menjadi sekitar 32% dan 34% pada 2025 serta termasuk pangsa tertinggi secara global.
Thailand juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam ekspor AI selama periode tersebut, meningkat dari sekitar 12% menjadi 16% dari PDB. Sebaliknya, pangsa ekspor AI Indonesia cenderung masih minim dan Filipina menunjukkan penurunan yang moderat.
Bukti awal menunjukkan bahwa AI menyebar perlahan di seluruh EAP dan menunjukkan bahwa kawasan ini masih berada pada tahap awal AI.
Menurut laporan Bank Dunia, hanya sekitar 13% hingga 17% anak perusahaan multinasional di China dan Thailand yang menggunakan AI, dibandingkan dengan 37% di Amerika Serikat. Adopsi AI di EAP juga terpusat di perusahaan multinasional dengan perusahaan domestik yang jauh tertinggal.
Selain itu, pangsa pekerjaan EAP yang melibatkan tugas-tugas yang saling melengkapi dengan AI, dan dengan demikian berpotensi mendapat manfaat darinya hanya sekitar 10%, dibandingkan dengan 30% di negara-negara maju.
Secara keseluruhan, pola-pola ini menunjukkan bahwa meskipun Investasi AI mengalir ke wilayah ini, namun penyebarannya ke perekonomian yang lebih luas masih dalam tahap awal.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]