AS-Iran Gencatan Senjata Kabar Baik Buat Ekonomi RI, Siap-siap Ngegas!
Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran membawa angin segar bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Meredanya tensi geopolitik dinilai bisa menjadi katalis positif, mulai dari harga energi hingga stabilitas pasar keuangan domestik.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menjelaskan, gencatan senjata memberikan sentimen positif jangka pendek karena menurunkan risiko lonjakan harga energi dan gangguan logistik global.
Menurutnya, harga minyak yang sebelumnya sempat melonjak di atas US$ 110 per barel kini mulai turun ke kisaran US$90-95/barel. Kondisi ini membantu mengurangi tekanan eksternal bagi Indonesia yang masih menjadi pengimpor energi.
"Namun, ini belum bisa dibaca sebagai perbaikan struktural, karena sifatnya masih fragile dan reversible, mengingat dinamika geopolitik kawasan belum sepenuhnya stabil," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (9/4/2026).
Dari sisi domestik, dampak paling cepat terasa pada inflasi dan fiskal. Penurunan harga energi dinilai mampu menahan imported inflation serta mengurangi tekanan biaya logistik dan produksi. Kendati demikian, ruang fiskal yang tercipta dinilai masih terbatas karena harga minyak tetap tinggi secara historis dan nilai tukar rupiah masih rentan.
Gencatan senjata juga dinilai dapat membuka ruang stabilisasi rupiah setelah sempat tertekan hingga ke level Rp 17.100 per dolar AS.
"Meredanya tensi global membuka ruang stabilisasi nilai tukar dan potensi capital inflow. Namun, arah pergerakan rupiah tetap akan ditentukan oleh faktor fundamental seperti kredibilitas fiskal, diferensial suku bunga, dan persepsi risiko Indonesia," ujarnya.
Di sisi lain, Global Markets Economist at Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai jika gencatan senjata berlangsung konsisten, maka ekonomi Indonesia berpotensi kembali terakselerasi.
"Momentum pertumbuhan ekonominya bisa kembali terakselerasi ya. Dan beban fiskal kita juga yang dikhawatirkan membengkak, bisa kembali on track. Jadi perkembangannya bagus ya," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (9/4/2026).
Dirinya menjelaskan, transmisi utama dampak positif ini berasal dari stabilisasi harga minyak dunia dan kelancaran pasokan energi global. Jika jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz tetap terbuka, maka tekanan terhadap subsidi energi dapat mereda signifikan.
Bahkan, Myrdal memperkirakan harga minyak bisa kembali ke level fundamental di bawah US$70 per barel, seiring perlambatan ekonomi global. Hal ini berpotensi menahan inflasi Indonesia tetap rendah, bahkan di bawah 3%.
"Saya rasa harga minyak masih di kisaran level di bawah 70 dolar per barel. Implikasinya buat inflasi kita, harusnya inflasi kita masih relatif di bawah 3 persen. Masih di 2,51 persen untuk tahun ini," ujarnya.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]