Video

Video: Amankan Subsidi BBM, Misbakhun Jamin Defisit APBN Di Bawah 3%

CNBC Indonesia TV,  CNBC Indonesia
07 April 2026 11:38

Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang sudah menembus level di atas USD 110 per barel imbas ketegangan di Timur Tengah, Pemerintah RI memastikan harga BBM Subsidi tidak naik hingga akhir tahun 2026.

Langkah ini diambil pemerintah guna menjaga daya beli dan menekan lonjakan inflasi imbas gejolak dunia sehingga disebut Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun sudah sangat tepat. Meski demikian pemerintah bersama DPR terus menghitung dampak ditahannya harga BBM Subsidi terhadap beban APBN dan ekonomi RI.

Kenaikan harga minyak global disebut Misbakhun memiliki risiko terhadap ekonomi karena terkait subsidi BBM yang pada asumsi APBN 2026 mencapai Rp 380 Triliun, sehingga saat harga minyak global maka beban yang ditanggung APBN meningkat namun jika harga BBM subsidi naik maka dampak rambatannya ke tekanan ekonomi juga akan meningkat.

Berdasarkan hitungan pemerintah, jika harga minyak dunia di kisaran USD 100 per barel maka APBN masih bisa menahan harga BBM Subsidi tidak naik dengan melakukan efisiensi anggaran untuk dialokasikan ke subsidi BBM.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga mengerek harga CPO, nikel hingga batu bara dan komoditas pangan. Oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang memiliki ragam komoditas ekspor unggulan maka RI berpotensi mendapatkan keuntungan lewat skema windfall tax. Pemerintah juga memastikan defisit APBN di tahan di bawah 3% untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap RI.

Selengkapnya simak dialog Andi Shalini dengan Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Selasa, 07/04/2026)