MARKET DATA
Internasional

Diam-Diam China Disebut Bantu Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS

tps,  CNBC Indonesia
06 April 2026 14:05
Gambar yang dirilis pada (5/6) kemarin, menunjukkan puing-puing pesawat Amerika dan rotor helikopter di Isfahan, Iran. (Social Media via REUTERS)
Foto: Gambar yang dirilis pada (5/6) kemarin, menunjukkan puing-puing pesawat Amerika dan rotor helikopter di Isfahan, Iran. (Social Media via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran berhasil menembak jatuh pesawat tempur Amerika Serikat (AS) di wilayah udaranya pada Jumat. Insiden ini menjadi sorotan dunia karena menandai pertama kalinya pesawat berawak AS jatuh di wilayah Iran sejak konflik meletus pada Februari lalu, sekaligus memperkuat dugaan adanya peran sistem navigasi canggih BeiDou milik China di balik peningkatan akurasi pertahanan Teheran.

Media pemerintah Iran merilis sejumlah dokumentasi berupa foto sirip ekor dan puing-puing pesawat yang awalnya diklaim sebagai jet tempur siluman F-35. Namun, para pakar penerbangan yang menganalisis puing tersebut menyatakan bahwa puing-puing itu berasal dari jet tempur F-15E Strike Eagle milik Skuadron ke-494 Angkatan Udara AS yang bermarkas di Eropa.

"Jet tempur musuh di wilayah udara Iran telah dihantam dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara canggih Angkatan Udara IRGC (Korps Garda Revolusi Iran)," ujar juru bicara komando operasional pusat militer Iran dalam pernyataan resminya, Jumat.

Keberhasilan ini sendiri terjadi setelah Mantan Direktur Intelijen Luar Negeri Prancis, Alain Juillet, menilai peningkatan drastis kemampuan Iran dalam mengenai sasaran ini kemungkinan besar berkat akses ke sistem satelit BeiDou. Menurut Juillet, ketepatan serangan Iran dalam beberapa waktu terakhir jauh melampaui kemampuan mereka pada awal konflik, yang menunjukkan adanya bantuan teknologi pemandu dari luar.

"Salah satu kejutan dalam perang ini adalah rudal Iran lebih akurat dibandingkan dengan perang yang terjadi delapan bulan lalu, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu rudal-rudal tersebut," tutur Juillet kepada podcast Tocsin, mengutip Al Jazeera pada Senin, (6/04/2026).

Apa Itu BeiDou Navigation Satellite System (BDS)?

China meresmikan sistem navigasi BeiDou sebagai pesaing GPS milik AS pada Juli 2020 dalam sebuah upacara megah di Beijing. Berbeda dengan GPS yang mengandalkan 24 satelit, BeiDou didukung oleh 45 satelit yang memberikan cakupan global lebih luas dan ketahanan sinyal yang lebih kuat terhadap gangguan atau jamming yang sering dilakukan militer AS.

Berdasarkan keterangan di situs resmi pemerintah China, sistem BeiDou terdiri dari segmen ruang angkasa, darat, dan pengguna yang terintegrasi secara masif. Segmen daratnya mencakup berbagai stasiun kendali utama dan fasilitas manajemen tautan antar-satelit untuk memastikan sinkronisasi waktu yang sangat akurat bagi penggunanya.

"Segmen darat BDS terdiri dari berbagai stasiun bumi, termasuk stasiun kendali utama, stasiun sinkronisasi waktu/uplink, stasiun pemantauan, serta fasilitas operasional dan manajemen tautan antar-satelit," tulis situs web resmi BeiDou tersebut.

Analis militer Elijah Magnier menjelaskan bahwa sistem navigasi satelit seperti BeiDou bekerja dengan mengirimkan sinyal waktu ke penerima di darat atau kendaraan untuk menghitung posisi geografis yang tepat. Tingkat akurasinya pun bervariasi tergantung pada jenis layanan yang digunakan oleh operator di lapangan.

"Akurasi bervariasi tergantung pada tingkat layanan. Sinyal sipil terbuka umumnya memberikan akurasi posisi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas yang tersedia bagi pengguna resmi dapat menawarkan presisi yang jauh lebih tinggi," jelas Magnier kepada Al Jazeera.

Mungkinkah Iran Menggunakan BeiDou?

Meskipun Teheran tidak pernah secara terbuka mengonfirmasi penggunaan teknologi China tersebut, indikasi kuat mengarah pada integrasi sistem BeiDou ke dalam infrastruktur militer Iran sejak beberapa tahun lalu. Kementerian Informasi dan Teknologi Komunikasi Iran hanya pernah menyatakan bahwa mereka menggunakan semua kapasitas teknologi yang ada di dunia tanpa bergantung pada satu sumber saja.

Namun, pengamat hubungan China-Iran, Theo Nencini, mengungkapkan bahwa Iran dilaporkan telah menandatangani nota kesepahaman sejak 2015 untuk mengintegrasikan BeiDou-2 ke dalam militer mereka. Akses ini diyakini semakin terbuka lebar setelah penandatanganan Kemitraan Strategis Komprehensif Sino-Iran pada Maret 2021.

"Dari sana, militer Iran mulai memasukkan BeiDou ke dalam pemandu rudal dan drone, serta ke dalam jaringan komunikasi aman tertentu," ungkap Nencini.

Peralihan ini pun dinilai telah mencapai puncaknya pada Juni 2025, saat gangguan sinyal GPS mulai berdampak serius pada navigasi udara dan laut Iran selama perang 12 hari dengan Israel. Nencini menyebut pengalaman pahit tersebut menjadi titik balik bagi Teheran untuk mempercepat transisi penuh ke sistem milik Beijing.

"Langkah Iran menuju BeiDou mencerminkan kekhawatiran lama, yang menunjukkan kesadaran Iran akan tantangan teknologi yang akan membentuk medan perang masa depan. Namun, pengalaman perang 12 hari jelas merupakan titik balik, yang mendorong Teheran untuk mempercepat transisi penuh last year," tambah Nencini.

Bagaimana BeiDou Meningkatkan Akurasi Target?

Sistem navigasi inersia yang selama ini digunakan rudal Iran memiliki kelemahan karena kesalahan pengukuran kecil dapat menumpuk seiring jarak penerbangan. Dengan bantuan sinyal satelit BeiDou, rudal dan drone Iran dapat melakukan koreksi jalur secara terus-menerus hingga mencapai target dengan presisi tinggi.

Elijah Magnier menambahkan bahwa penggunaan beberapa sistem satelit sekaligus memberikan keuntungan berupa ketahanan terhadap upaya sabotase sinyal oleh lawan. Jika satu sinyal satelit diganggu, sistem pemandu tetap bisa berfungsi dengan menerima sinyal dari konstelasi satelit lainnya.

"Simultan penggunaan beberapa sistem satelit memberikan keuntungan tambahan: ketahanan terhadap jamming atau gangguan sinyal. Dalam lingkungan yang diperebutkan, sinyal navigasi mungkin sengaja diganggu. Jika senjata bergantung pada satu sistem satelit, gangguan sinyal itu dapat menurunkan akurasi," papar Magnier.

Selain itu, sistem militer BeiDou menggunakan teknik lompatan frekuensi yang rumit untuk mencegah spoofing atau pengiriman koordinat palsu oleh musuh. Kemampuan ini membuat rudal Iran sulit untuk "dijinakkan" oleh teknologi pertahanan udara konvensional milik Barat.

"Berbeda dengan sinyal GPS tingkat sipil yang lumpuh pada 2025, sinyal militer B3A milik BDS-3 pada dasarnya tidak dapat diganggu. Sistem ini menggunakan lompatan frekuensi yang kompleks dan Navigation Message Authentication (NMA), yang mencegah 'spoofing'," tegas analis militer Patricia Marins kepada bne IntelliNews.

Seberapa Signifikan Penggunaan BeiDou oleh Iran?

Jika kabar mengenai keandalan BeiDou ini terkonfirmasi sepenuhnya, hal ini dapat mengubah peta persaingan teknologi navigasi global. Keberhasilan Iran merontokkan pesawat tempur AS di awal April ini menjadi bukti nyata bahwa dominasi navigasi AS melalui GPS mulai tertantang secara serius di medan perang.

Elijah Magnier menekankan bahwa kemampuan serangan presisi yang dulunya hanya dimiliki oleh negara-negara maju, kini mulai tersebar luas berkat ketersediaan infrastruktur navigasi global baru. Hal ini akan terus membentuk dinamika konflik modern di masa depan.

"Evolusi navigasi satelit telah mengubah lanskap peperangan modern. Kemampuan serangan presisi, yang dulunya merupakan domain segelintir kekuatan militer maju, kini semakin dibentuk oleh ketersediaan infrastruktur navigasi global," kata Magnier.

Di sisi lain, China juga diprediksi memanfaatkan konflik ini untuk menguji kehebatan teknologinya secara langsung terhadap alutsista tercanggih milik Amerika Serikat. Data yang dikumpulkan dari medan perang di Timur Tengah akan menjadi masukan sangat berharga bagi pengembangan militer Beijing.

"Perang ini memungkinkan China untuk menilai efektivitas sistemnya terhadap pesawat tempur generasi ke-5 Amerika seperti F-35, sambil mengumpulkan data berharga tentang kemampuan AS dalam mencegat rudal dan drone Iran yang dipandu oleh BeiDou," tutup Nencini.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Nyatakan Perang Skala Penuh Lawan AS-Israel Cs


Most Popular
Features