MARKET DATA
Internasional

Bukan Iran-AS-Israel, China Coba Damaikan Duluan 2 Negara Muslim Ini

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
04 April 2026 14:00
Seorang tentara Taliban berdiri di samping senjata anti-pesawat sambil mengawasi jet tempur Pakistan, di provinsi Khost, Afghanistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Stringer)
Foto: Seorang tentara Taliban berdiri di samping senjata anti-pesawat sambil mengawasi jet tempur Pakistan, di provinsi Khost, Afghanistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat perhatian dunia tertuju pada konflik besar di Timur Tengah, China justru bergerak di jalur berbeda. Beijing mengambil peran sebagai penengah untuk meredakan ketegangan antara dua negara Muslim yang sudah lama bersitegang.

Upaya ini dilakukan di tengah memanasnya situasi global, ketika banyak negara besar fokus pada konflik Iran-AS-Israel. China memilih langkah diplomasi senyap dengan mempertemukan pihak-pihak yang bertikai untuk membuka peluang damai.

Pakistan dan Afghanistan dilaporkan telah membuka babak baru pembicaraan di China pada Rabu, (1/4/2026). Langkah ini diambil guna mengakhiri pertempuran paling mematikan antara kedua negara Muslim tersebut sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021 silam.

Delegasi kementerian luar negeri dan pertahanan dari kedua negara dilaporkan telah melakukan perjalanan ke kota Urumqi untuk memulai diskusi. Pertemuan ini melibatkan pejabat tingkat menengah yang berfokus pada potensi gencatan senjata dan pembukaan kembali gerbang perbatasan guna memulihkan jalur perdagangan.

"Kepemimpinan puncak kami setuju dengan mereka dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam proses tersebut," ujar salah seorang pemimpin Taliban di Kabul terkait keikutsertaan mereka dalam dialog tersebut dikutip Reuters, Sabtu (4/4/2026).

Inisiatif pertemuan di Urumqi ini sepenuhnya diprakarsai oleh Beijing yang mencoba menjadi mediator di tengah memanasnya suhu politik global. Upaya mediasi China ini muncul saat mediator tradisional seperti Qatar, Arab Saudi, dan Turki kini tengah terjebak dalam pusaran perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, juga terpantau berada di Beijing untuk mencari dukungan China terkait inisiatif perdamaian lainnya. Meski delegasi sudah berada di lokasi, hingga saat ini Kementerian Luar Negeri Pakistan maupun pihak administrasi Kabul belum memberikan tanggapan resmi terkait rincian pembicaraan di China tersebut.

Upaya perundingan ini merupakan respons atas konflik berdarah yang telah menelan korban jiwa besar di kedua belah pihak, terutama di pihak Afghanistan, sejak Pakistan meluncurkan serangan udara pada akhir Februari lalu. Islamabad menuduh Taliban menyembunyikan militan Islam, sementara Kabul menegaskan militansi adalah persoalan domestik Pakistan.

Sebelum pembicaraan dimulai, kedua belah pihak sempat terlibat aksi saling tembak yang intensif menyusul berakhirnya gencatan senjata sementara Idul Fitri. Pakistan mengakhiri jeda permusuhan tersebut dengan dalih merespons serangan dari arah wilayah Afghanistan.

Kabul mengeklaim lebih dari 400 orang tewas akibat serangan udara Pakistan di sebuah pusat rehabilitasi narkoba bulan lalu, sebelum pertempuran sempat ditangguhkan. Namun, pemerintah Pakistan menolak mentah-mentah pernyataan pihak Taliban mengenai dampak serangan tersebut.

"Kami secara tepat menargetkan instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris," tulis pernyataan resmi pihak Pakistan mengenai serangan udara di wilayah Afghanistan tersebut.

 

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 2 Negara Muslim Terancam Perang, 10 Tewas Dibom


Most Popular
Features