MARKET DATA

Dolar Sempat Tembus Rp17.000, Pengusaha Kasih Peringatan

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
03 April 2026 18:15
Ketua Umum ASPEBINDA, Anggawira. (Dok. Istimewa)
Foto: Ketua Umum ASPEBINDA, Anggawira. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran di kalangan dunia usaha. Pelaku usaha menilai kondisi ini sebagai sinyal kewaspadaan karena berpotensi menekan biaya produksi hingga daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), kurs referensi rupiah pada Rabu, 1 April 2026 tercatat di level Rp17.002 per dolar AS. Sebelumnya, sejak awal Maret 2026, rupiah sudah bergerak di kisaran Rp16.900 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp16.990 pada 16 Maret dan Rp16.999 pada 31 Maret 2026.

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira mengatakan, pelemahan rupiah tersebut harus menjadi perhatian serius bagi dunia usaha.

"Terkait kurs dolar yang menembus Rp17.000 per dolar AS, dunia usaha tentu melihat ini sebagai sinyal kewaspadaan. Memang benar ada dua sisi. Untuk eksportir, pelemahan rupiah bisa memberi keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global dan penerimaan devisa meningkat," kata Anggawira kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026).

"Namun bagi mayoritas pelaku usaha, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, komponen, hingga utang dalam dolar, kondisi ini cukup berat," sambungnya.

Anggawira menilai, dampak paling terasa adalah lonjakan biaya produksi di berbagai sektor industri. Katanya, industri manufaktur, otomotif, elektronik, farmasi, makanan minuman, tekstil, logistik, hingga energi akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional.

"Pelaku usaha yang memiliki pinjaman dolar atau kewajiban pembayaran impor juga akan menghadapi tekanan cash flow yang lebih besar," ucap dia.

Jika kondisi ini berlanjut, Anggawira mengingatkan dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen.

"Yang dikhawatirkan, jika dolar terus naik dan bertahan lama di atas Rp17.000 (per dolar AS), maka dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen. Barang impor akan lebih mahal, harga pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai bisa naik, begitu juga elektronik, otomotif, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Ini bisa menekan daya beli masyarakat dan akhirnya mempengaruhi penjualan dunia usaha juga," kata Anggawira.

Ia menegaskan, dunia usaha tidak hanya melihat kondisi ini dari sisi keuntungan eksportir semata, melainkan lebih pada pentingnya stabilitas nilai tukar.

"Karena itu, bagi pengusaha situasi ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi eksportir untung atau importir rugi. Yang paling penting adalah menjaga agar volatilitas tidak terlalu liar. Dunia usaha lebih membutuhkan kurs yang stabil daripada kurs yang terlalu berfluktuasi," tegasnya.

Untuk merespons kondisi ini, pelaku usaha mulai melakukan berbagai langkah penyesuaian, mulai dari efisiensi hingga penguatan penggunaan bahan baku lokal.

"Melakukan lindung nilai atau hedging untuk transaksi impor, serta mengurangi ketergantungan terhadap komponen luar negeri. Ini momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat industri domestik," jelas dia.

Di sisi lain, Anggawira juga mendorong pemerintah menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi kebijakan yang kuat.

"Di sisi pemerintah, penting menjaga koordinasi fiskal dan moneter, memperkuat cadangan devisa, mempercepat repatriasi devisa hasil ekspor, serta menjaga kepercayaan pasar agar rupiah tidak tertekan terlalu dalam. Karena kalau kurs terus melemah, bukan hanya importir yang tertekan, tapi juga inflasi, daya beli, dan iklim investasi secara keseluruhan akan ikut terdampak," katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari geopolitik hingga kebijakan moneter AS.

"Pelemahan rupiah ke level Rp17.000 (per dolar AS) terutama dipicu oleh sentimen geopolitik global, arus modal keluar, tingginya permintaan dolar untuk impor dan pembayaran utang, serta kebijakan suku bunga AS yang masih tinggi," pungkasnya.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ini Komentar Bos BI dan Purbaya Soal Redenominasi Rupiah


Most Popular
Features