Dunia Dibayangi Krisis Plastik, Nasib RI Begini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 02/04/2026 10:50 WIB
Foto: Pekerja merapikan barang kiriman plastik berupa karung di Kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku petrokimia masih menjadi tantangan di tengah dinamika global. Di saat sejumlah negara mulai mengamankan pasokan, pelaku industri dalam negeri ikut mencermati ketahanan stok agar tidak terjadi gangguan produksi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengungkapkan kebutuhan bahan baku utama industri plastik nasional masih sangat besar, khususnya untuk nafta yang sepenuhnya bergantung pada impor.

"Untuk naptha kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100% impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, PVC dan lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50% masih impor," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026).


Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran global mulai terlihat. Sejumlah negara bahkan mengalami lonjakan permintaan yang tidak biasa, mencerminkan meningkatnya kecemasan terhadap pasokan bahan baku.

Salah satu negara yang mengalami peningkatan permintaan plastik terjadi di Korea Selatan. Namun, Fajar menilai ada perbedaan situasi antara industri petrokimia dan Korea sehingga RI dinilai cenderung aman.

Foto: Pekerja merapikan barang kiriman plastik berupa karung di Kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Pekerja merapikan barang kiriman plastik berupa karung di Kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Korea beberapa petrokimia sudah slowdown lama sebelum perang (Timur Tengah), jadi sekarang makin susah," sebutnya.

Pemerintah dan pengusaha sendiri disebut mulai membuka komunikasi dengan sejumlah negara alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Namun langkah ini membawa konsekuensi tersendiri.

"Sudah mulai komunikasi dengan Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Yang jelas lead time lebih lama, paling cepat sekitar 50 hari," jelas Fajar.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mengapa Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut secara mandiri. Menurut Fajar, arah kebijakan energi dan industri masih menjadi faktor utama.

"Kita masih fokus terhadap BBM, naptha yang ada sekarang juga diprioritaskan untuk BBM dulu," ujarnya.

Ia menilai peluang ke depan dalam bahan baku petrokimia tetap terbuka, terutama melalui pengembangan hilirisasi berbasis sumber daya domestik.

"Seharusnya kita mulai hilirisasi batu bara atau bionaphtha dari CPO, itu yang paling memungkinkan," katanya.

Meski demikian, di tengah berbagai tantangan global, seluruh negara saat ini berada dalam posisi yang sama, yakni berlomba mengamankan bahan baku. Situasi ini membuat pelaku industri berharap stabilitas pasokan tetap terjaga, sehingga aktivitas produksi dalam negeri tidak terganggu di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

"Semua negara sedang berusaha untuk mengamankan feedstock," ujar Fajar.


(fys/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI & Korsel Teken 10 Mou, Termasuk Mineral Penting