RI & Korsel Teken 10 MoU, Dari Mineral Kritis, AI hingga Energi Bersih
Seoul, CNBC Indonesia - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Presiden Republik Korea Selatan Lee Jae Myung menyaksikan pertukaran nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) usai pertemuan bilateral di Blue House, Seoul, Rabu (1/3/2026). Sebanyak 10 MoU itu merentang dari kerja sama mineral kritis hingga kecerdasan buatan (AI).
Penukaran nota kesepahaman itu dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani.
Berikut daftarnya :
1. MOU on Establishing the Special Comprehensive Strategic
2. MOU on Economic Cooperation 2.0
3. MOU on Cooperation in Critical Mineral Partnership
4. MOU on Cooperation in Digital Development
5. MOU on Cooperation on AI for Basic Health and Human Development
6. MOU on Strengthening Cooperation in the Field of Clean Energy
7. MOU on Cooperation in the Field of Carbon Capture and Storage (CCS)
8. MOU on Cooperation in the Field of the Offshore Plant Service Industry
9. MOU on Intellectual Property Protection and Enforcement Cooperation
10. MoU on Financial Cooperation (Danantara-Exim Bank of Korea)
Saat membuka pertemuan bilateral, kedua kepala negara sepakat untuk saling meningkatkan kerja sama di tengah situasi ketidakpastian global yang terjadi. Prabowo mengatakan, hubungan Korsel dan Indonesia sangat penting untuk mencapai kesejahteraan ekonomi bagi kedua negara. Sebab, Korsel memiliki kemajuan yang luar biasa dalam bidang industri, sains, dan teknologi.
"Kita memiliki banyak sumber daya, kami memiliki pasar yang besar, kita bisa saling melengkapi," kata Prabowo.
Selain itu, Prabowo juga melihat Indonesia dan Korsel merupakan dengan negara kekuatan menengah, yang memiliki kekhawatiran yang sama.
"Kita sama-sama membutuhkan stabilitas dan perdamaian. Namun kita memahami bahwa jika kita menginginkan perdamaian dan stabilitas kita juga harus memiliki keamanan dan pertahanan yang baik," tuturnya.
Di sisi lain, Lee juga menyinggung sumber daya Indonesia yang melimpah, seperti LNG dan batu bara. Sehingga dia menginginkan kedua negara bisa memperluas kerja sama dalam hal stabilitas energi.
"Kami merasa sangat yakin, mengetahui bahwa Indonesia menyediakan LNG dan batu bara dengan sangat stabil kepada Korea. Untuk meminimalkan dampak krisis ini terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat kita, kita perlu memperluas kerja sama antara kedua negara dalam stabilitas pasokan energi dan keamanan sumber daya," katanya.
Dia juga menyinggung Indonesia telah membuat Korsel mampu mengembangkan industri pertahanannya.
"Indonesia merupakan tujuan pertama investasi bagi perusahaan Korea dan mitra berharga yang telah membantu memungkinkan berkembangnya industri pertahanan Korea. Selain itu, kendaraan listrik pertama Indonesia diproduksi bersama dengan perusahaan Korea," tuturnya.
(miq/miq) Add
source on Google