Harga Minyak US$100 Sampai Akhir Tahun APBN 2026 Tak Akan Boncos
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sepanjang tahun ini akan tetap aman, meskipun harga minyak bergejolak melampaui asumsi makro APBN 2026.
Ia mengatakan, sekalipun harga minyak mentah dunia bertahan rata-rata di kisaran US$100 per barel hingga akhir tahun atau di atas asumsi APBN US$ 70 per barel, pemerintah akan tetap bisa menjaga APBN 2026 tak boncos, alias tak mengalami pelebaran defisit di atas batas aman 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Hitungan kami, US$100/barel rerata sampai 1 tahun pun, anggaran kita masih tetap berkesinambungan dan defisit masih terkendali," tegas Purbaya dalam konferensi pers Kebijakan Pemerintah dalam Mitigasi Risiko dan Antisipasi Dinamika Global secara daring, dikutip Rabu (1/4/2026).
Oleh sebab itu, ia memastikan kepada seluruh pihak bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah mitigasi untuk mengamankan fiskal. Pemerintah kata dia telah memperhitungan segala risiko dan antisipasi yang akan ditempuh untuk meresponsnya.
"Jadi tidak perlu khawtir anggaran morat marit, kita sudah hitung sampai akhir tahun," papar Purbaya.
"Kita selalu menjaga anggaran berkesinambungan dan dengan itupun punya ruang untuk cushion gejolak perekonomian," tegasnya.
Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi, di tengah eskalasi konflik yang kian panas di Timur Tengah.
Per pukul 09.40 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat di US$112,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$102,53 per barel, mengutip data Refinitiv.
Di tengah kondisi itu, Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan tidak ada perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik non-subsidi maupun BBM bersubsidi, pada 1 April 2026. Hal ini sesuai dengan arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga.
(arj/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]