MARKET DATA

Gonjang-ganjing Harga BBM RI, di Selandia Baru Sudah Tembus Segini!

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
31 March 2026 11:30
Illustrasi bensin (Dok Pixabay)
Foto: Illustrasi bensin (Dok Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia rupanya belum ada apa-apanya apabila dibandingkan harga BBM yang ada di Selandia Baru, di mana harga bensin negara tersebut melonjak jauh lebih tinggi.

Melalui unggahan akun Instagram @jktdelicacy, harga bensin Ron 91 di Selandia Baru dilaporkan mencapai 3,8 dolar Selandia Baru per liter atau sekitar Rp38.700 per liter. Angka ini naik signifikan dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran US$3 per liter.

"Kalau kalian ngeluh harga BBM di Indonesia mahal. Di sini New Zealand harga bensin di satu liter itu di harga $3,8 atau Rp38.700," ujar @jktdelicacy dikutip Selasa (31/3/2026).

Dalam unggahan akun itu, kenaikan harga ini cukup mengejutkan. Pasalnya, untuk pengisian bahan bakar sebanyak 30 liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp1,1 juta.

"Jujur ini bikin kita shock banget sih karena harga bensin di new zealand naik dari yang awalnya US$ 3 sekarang jadi $3,8 dan ini isi 30 liter harganya 1,1 jutaan guys. Gokil ini harga termahal guys," ujarnya.

Sebelumnya, harga BBM nonsubsidi diperkirakan bakal mengalami kenaikan mulai 1 April 2026. Hal tersebut menyusul lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya beban kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memperkirakan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.

Menurut Bhima, kenaikan tersebut tidak terlepas dari membengkaknya kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah kepada PT Pertamina (Persero).

"BBM nonsubsidi diperkirakan naik 1.500-2.000 per liter untuk Pertamax dan Pertamina dex. Kenaikan BBM non subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan," ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (3/30/2026).

Bhima menilai tanpa adanya realokasi anggaran besar dalam APBN, selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM akan semakin sulit ditanggung. Sementara, jika tidak disesuaikan, risikonya Pertamina yang harus menanggung beban tersebut.

"Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding," katanya.

Di sisi lain, ia menambahkan, kenaikan ini bukanlah yang pertama dan berpotensi berlanjut, seiring harga minyak dunia yang masih tinggi di kisaran US$90 hingga US$115 per barel.

(ven/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tok! Pertamina Resmi Tetapkan Harga Baru BBM Per 1 November


Most Popular
Features