MARKET DATA
Internasional

Breaking News: Trump Akan Setop Perang AS-Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

sef,  CNBC Indonesia
31 March 2026 11:00
U.S. President Donald Trump talks to members of the media aboard Air Force One en route to Joint Base Andrews, Maryland, U.S., March 29, 2026. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Jakarta, CNBC Indonesia -Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia bersedia mengakhiri perang Iran. Bahkan jika Selat Hormuz, jalur 20% minyak global dan 25% gas dunia, tetap tertutup.

Hal ini dilaporkan Wall Street Journal (WSJ), mengutip para pejabat administrasi, dimuat Selasa (31/3/2026). Trump dan para pembantunya disebut percaya bahwa "operasi militer untuk membuka Selat Hormuz akan mendorong konflik Iran melampaui target, jangka waktu empat hingga enam minggu, yang telah ditetapkannya.

"Presiden memiliki opsi militer, tetapi itu bukan prioritasnya," kata para pejabat administrasi kepada WSJ, sebagaimana dimuat sejumlah laman AFP hingga Reuters.

Laporan itu juga menyebut Trump telah memutuskan bahwa "AS harus mencapai tujuannya untuk melumpuhkan angkatan laut dan rudal Iran". Kemudian, tambahnya, "mengurangi permusuhan sambil memberikan tekanan diplomatik kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz".

"Jika itu tidak berhasil, Washington akan mendorong sekutu di Eropa dan Teluk untuk mengambil alih pembukaan kembali selat tersebut," bunyi laporan tersebut lagi.

Laporan ini membuat harga minyak turun. Minyak mentah Brent melandai 1,3% menjadi US$106,04 per barel sementara minyak West Texas Intermediate turun 0,7% menjadi US$102,22 per barel.

Sejumlah bursa di Asia juga naik berkat laporan ini. Dengan indeks Hang Seng, Hong Kong, naik 0,5% menjadi 24.869,71 dan indeks Komposit di Shanghai naik 0,3% menjadi 3.935,05.

Perlu diketahui, laporan muncul setelah Senin Trump mengancam menghancurkan Pulau Kharg- tempat sebagian besar minyak mentah Iran berada- jika kesepakatan damai tidak tercapai. Ia mengatakan pasukan AS akan menghancurkan "semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (serta mungkin semua pabrik desalinasi)", dalam cuitannya.

Namun di hari yang sama, ia juga sempat berujar bahwa para pejabat sedang berbicara dengan "rezim yang lebih masuk akal" di Teheran. Namun Iran membantah adanya pembicaraan dan menuduh sang Presiden berbohong tentang negosiasi sebagai kedok sambil mempersiapkan invasi darat.

Laporan negosiasi juga diungkap Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Ia menyatakan harapan untuk bekerja sama dengan elemen-elemen di dalam pemerintahan Iran.

Sebelumnya, para ahli pasar memperingatkan bahwa operasi darat AS atau pembalasan Iran yang lebih luas dapat mendorong harga minyak ke level yang belum pernah terlihat sejak Juli 2008. Kala itu, Brent hampir mencapai US$150 per barel.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tok! Trump Tandatangan RUU, Shutdown AS Resmi Berakhir


Most Popular
Features