Tiru Brasil-India, RI Mau Terapkan Bioetanol 20% E20 untuk BBM Bensin

Martyasari Rizky, Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 30/03/2026 16:50 WIB
Foto: BBM Pertamax Green (RON 95) PT Pertamina (Persero) di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (24/7/2023). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan pemerintah berencana menerapkan mandatori campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol sebesar 20% (E20) pada bensin.

Hal itu juga menjadi arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto untuk kemandirian energi dan pangan nasional di tengah esklalasi geopolitik global.

Amran mengungkapkan bahwa Indonesia akan belajar dan meniru keberhasilan negara-negara lain seperti Brasil yang telah lama mengadopsi campuran bioetanol dengan persentase tinggi.


Menurutnya, sumber daya alam Indonesia, seperti tebu, singkong, dan jagung, mumpuni untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol tersebut.

"Sekarang bagaimana kita dorong etanol menjadi energi, E20 seperti negara Brasil. Brasil kalau tidak salah E27 atau E37. Kita menuju sekarang lompat langsung mandatori E20 ke depan," ungkap Amran di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (30/3/2026).

Rencana implementasi E20 tersebut diproyeksikan akan menjadi substitusi ketergantungan Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin berbasis fosil seperti Pertalite maupun Pertamax.

Amran menyebutkan bahwa potensi awal bahan baku sudah tersedia, salah satunya melalui pemanfaatan ekspor molase (tetes tebu) yang mencapai 1 juta ton. Jika diolah di dalam negeri dapat menghasilkan 300 ribu kilo liter (kl) etanol.

"Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molases atau tetes tebu. Ini bisa dijadikan dan bisa meng-etanol 300 ribu. Sudah pasti cukup. Kita tanam. Kita akan tanam sekarang. Penanaman tebu, penanaman singkong, penanaman sawit," tegasnya.

Amran menambahkan bahwa penggunaan E20 di masa depan akan didukung oleh teknologi mesin flexi-fuel. Mesin jenis ini memungkinkan kendaraan beradaptasi dengan berbagai tingkat campuran etanol, mulai dari 20-100%.

Dengan begitu, pemerintah akan mematangkan koordinasi dengan berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan pada pekan depan. Amran juga menjanjikan akan membeberkan detail pelaksanaan uji coba atau road test E20 jika sudah ada keputusan.

Selain Brasil (E22-E100), diketahui beberapa negara juga sudah menerapkan bioetanol, antara lain India (E20), Amerika Serikat (E10, E15, hingga E85), China (E10), Kanada (E5-E10), maupun Thailand (E10, E20, hingga E85).

Rencana Impor Bioetanol

Pemerintah berencana menerapkan mandatori pencampuran bioetanol pada BBM sebesar 5% mulai dari 2028. Bahkan, pemerintah menargetkan pencampuran bioetanol bisa mencapai 20%.

Untuk memenuhi kebutuhan bioetanol tersebut, pemerintah akan mengizinkan impor bioetanol dari Amerika Serikat terlebih dahulu, sampai pasokan bioetanol di dalam negeri sudah bisa mencukupi kebutuhan nasional.

Hal ini merupakan bagian dari kesepakatan bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI Prabowo Subianto pada pekan lalu.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, rencana kebijakan impor bioetanol dari AS tersebut karena kapasitas produksi industri etanol di dalam negeri saat ini belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional. Impor diposisikan sebagai solusi untuk menutup selisih (gap) antara kebutuhan dan produksi.

"Kita memang ada mandatori, mandatori kita 2028 itu diperkirakan sekitar 5%-20%. Antara konsumsi dan produksi dalam negeri, itu kekurangannya berapa, itu yang bisa kita impor. Jadi impor itu adalah untuk mengisi kekurangan daripada kebutuhan konsumsi dalam negeri," ungkap Bahlil dalam konferensi persnya di Amerika Serikat disiarkan daring, dikutip Senin (23/2/2026).

Bahlil menegaskan bahwa impor dari AS ini sejatinya merupakan skema pengalihan (switching) sumber pasokan dari negara lain yang selama ini menjadi pemasok bioetanol Indonesia. Ia menilai kerja sama dagang dengan AS ini memberikan keuntungan, terutama terkait fasilitas tarif bea masuk 0%.

"Apalagi kan kalau kita masuknya dengan tarif 0% ke negara kita, berarti kan harus lebih murah dong. Ini kan menguntungkan kita sebenarnya. Sehingga industri kita lebih kompetitif dalam memakai bahan baku daripada etanol," jelasnya.

Lebih lanjut, Bahlil menilai kebutuhan etanol ini tidak hanya terbatas untuk campuran bahan bakar bensin (bioetanol), tetapi juga untuk kebutuhan sektor industri lainnya yang selama ini memang masih bergantung pada pasokan impor.

"Dan untuk etanol yang dimaksudkan ini sebenarnya tidak hanya pada konteks pencampuran dengan bensin, tapi juga untuk industri-industri lain yang dibutuhkan," tandasnya.

Kendaraan Mumpuni

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, rencana Pemerintah Indonesia untuk menerapkan mandatori bioetanol nasional mulai dari 5% (E5) tidak akan menjadi masalah. Pasalnya, kendaraan pabrikan Indonesia sudah mampu menggunakan campuran bioetanol hingga 20% (E20).

"Produk-produk yang ada itu sudah sampai E20 walaupun belum resmi Pak, tapi kalau sampai E10 sudah resmi. Dan menarik lagi, tadi Pak Eddy (Wakil Ketua MPR) menyinggung soal Brasil, engine-nya buatan kerawang Pak yang dipakai di Brasil," kata Kukuh dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/3/2026).


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Mulai 1 April 2026, Rusia Setop Ekspor Bensin Efek Perang