Sinyal Terbaru dari Iran Terkait Kapal Tanker Milik RI di Selat Hormuz

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 30/03/2026 10:30 WIB
Foto: PT Pertamina International Shipping (PIS), anak usaha dari PT Pertamina (Persero) tengah melakukan peremajaan salah saru armadanya yakni kapal MT Gamkonora. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus melakukan negosiasi dengan pihak Iran agar dua kapal milik PT Pertamina (Persero) yang saat ini masih tertahan di kawasan Teluk Persia, bisa berlayar melewati Selat Hormuz.

Yang terbaru, upaya diplomasi melalui koordinasi lintas kementerian dengan Iran tersebut mulai memberikan 'sinyal positif' dengan adanya respon persetujuan dari otoritas Iran agar kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

"Dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan koordinasi Kemlu dan KBRI Tehran dengan pihak Pertamina, Kedubes Iran di Jakarta dan pihak-pihak Iran terkait di Tehran, Kedubes Iran telah sampaikan pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (30/3/2026).


Namun, dia mengatakan masih ada persiapan teknis oleh pihak Pertamina terkait perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal. Kesiapan tersebut perlu rampung sebelum RI menindaklanjuti tanggapan positif dari pihak Iran.

Seperti diketahui, ada 4 kapal milik PT Pertamina (Persero) yang sempat tertahan di perairan Timur Tengah saat Perang Isral-Amerika Serikat dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 lalu.

Pada pertengahan Maret 2026, dua tanker Pertamina berhasil keluar dari area Timur Tengah, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon, sementara dua kapal lainnya masih tertahan. Namun demikian, kedua kapal PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut bukan untuk melayani pasokan minyak RI, melainkan untuk pihak ketiga ke negara lain.

Sejalan dengan itu, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menegaskan bahwa koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri terus dilakukan untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.

Ia memastikan bahwa langkah ini diambil tidak hanya untuk mengamankan muatan energi, tetapi juga memprioritaskan keselamatan para kru di lapangan.

"Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah," tegas Anggia dalam keterangan resmi, Minggu (29/3/2026).

Sebagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pasokan BBM di dalam negeri, pemerintah mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah dan BBM dari kawasan di luar Timur Tengah. Hal ini sesuai dengan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Berdasarkan catatan pemerintah, sepanjang tahun 2025 Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah. Dari volume tersebut, porsi dari Arab Saudi sekitar 19% atau 25,36 juta barel.

Sisa pasokan lainnya berhasil diamankan dari berbagai negara seperti kawasan Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, hingga Malaysia. Selain itu, Indonesia juga telah memiliki kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia khusus untuk pasokan produk BBM.

Di lain sisi, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan apresiasinya atas dukungan penuh pemerintah. Saat ini, Pertamina International Shipping (PIS) tengah menyelesaikan berbagai persiapan administratif dan operasional agar kedua kapal tersebut siap melintasi selat dengan aman.

"Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik," imbuh Baron.

Berdasarkan data CNBC Indonesia Researce, Berikut negara yang kapalnya boleh lewat Selat Hormuz

  • Indonesia (Menunggu Kesiapan Teknis). Pemerintah Iran memberikan pertimbangan positif keamanan. Saat ini pelintasan masih menunggu kesiapan teknis Pertamina, termasuk perlindungan asuransi dan kru kapal.
  • Pakistan (Diizinkan). Kapal tanker jenis Aframax bernama Karachi berhasil keluar dari wilayah Teluk melalui rute yang ditetapkan.
  • India (Diizinkan). Dua kapal tanker gas minyak cair (LPG) melanjutkan perjalanan setelah adanya komunikasi antarnegara.
  • China (Diizinkan). Mendapat jaminan keamanan dari Teheran, meskipun dua kapal menunda keberangkatan pada 28 Maret 2026 karena alasan operasional.
  • Turki (Diizinkan). Memperoleh persetujuan langsung dari otoritas Teheran bagi armada yang berada di dekat perairan Iran.
  • Malaysia (Diizinkan). Sedang dalam proses pemulangan armada kapal tanker beserta pekerjanya agar dapat kembali berlayar.
  • Spanyol (Diizinkan). Satu-satunya negara Eropa yang mendapat izin, karena dinilai mematuhi hukum internasional dan tidak berafiliasi dengan musuh Iran.
  • Rusia, Irak, Bangladesh (Diizinkan). Diperbolehkan melintasi jalur Selat Hormuz dengan aman tanpa hambatan.
  • Prancis, Italia (Belum Diizinkan). Telah mengajukan permohonan lintas batas, namun sejauh ini belum mendapatkan lampu hijau dari Iran.
  • Amerika Serikat, Israel (Dilarang). Diblokir sepenuhnya dan tidak diperbolehkan melintasi kawasan Selat Hormuz.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Beri Sinyal Positif Kapal Tanker RI Lewati Selat Hormuz