Bikin Heboh! Kampus Ini Ditutup Karena Kebanyakan Mahasiswa Muslim
Jakarta, CNBC Indonesia - Secara mengejutkan, otoritas medis di India mencabut lisensi operasional sebuah kampus kedokteran ternama di Jammu dan Kashmir pada Kamis (15/1/2026). Langkah ini memicu polemik luas lantaran adanya dugaan kuat bahwa pemerintah menyerah pada desakan kelompok sayap kanan Hindu yang mempersoalkan tingginya proporsi mahasiswa Muslim di institusi tersebut.
Pembatalan status akreditasi Shri Mata Vaishno Devi Medical Institute (SMVDMI) oleh Komisi Medis Nasional (NMC) resmi dilakukan pada awal tahun 2026. Meskipun berlokasi di wilayah pegunungan Reasi dan didirikan oleh yayasan amal Hindu dengan bantuan dana negara, kampus swasta ini kini harus berhenti beroperasi di tengah tudingan diskriminasi.
Ketegangan bermula ketika komposisi mahasiswa angkatan pertama program studi MBBS (Sarjana Kedokteran) terungkap ke publik. Dari total 50 mahasiswa yang lolos seleksi ketat melalui ujian nasional (NEET), 42 di antaranya adalah Muslim, tujuh umat Hindu, dan satu umat Sikh. Sebagian besar mahasiswa tersebut berasal dari wilayah Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim.
Kelompok sayap kanan Hindu segera meluncurkan aksi protes besar-besaran di depan gerbang kampus. Mereka berargumen bahwa karena dana pembangunan kampus berasal dari sumbangan umat di Kuil Mata Vaishno Devi, maka mahasiswa Muslim tidak berhak menempuh pendidikan di sana.
"Kampus ini menyandang nama Mata Vaishno Devi, dan ada jutaan pemuja yang emosi keagamaannya terikat kuat dengan kuil ini," ujar juru bicara BJP di Kashmir, Altaf Thakur, mencoba menjelaskan sentimen warga meski ia juga berkilah bahwa penutupan disebabkan oleh masalah teknis.
Tak lama setelah protes memuncak, NMC mengumumkan pencabutan izin dengan alasan SMVDMI gagal memenuhi "standar minimum" yang ditetapkan pemerintah, mencakup kekurangan staf pengajar, jumlah tempat tidur pasien, hingga fasilitas perpustakaan. Namun, klaim ini dibantah keras oleh para mahasiswa yang sudah mulai berkuliah.
Jahan, salah satu mahasiswa, menyatakan bahwa fasilitas kampus justru sangat mumpuni dibandingkan kampus kedokteran lainnya.
"Saya tidak merasa kampus ini kekurangan sumber daya. Kami memiliki empat kadaver (jenazah untuk praktik) per angkatan, sementara kampus lain terkadang hanya punya satu. Setiap mahasiswa punya kesempatan bedah mandiri," ungkapnya kepada Al Jazeera.
Analisis politik dari Jammu, Zafar Choudhary, juga mempertanyakan logika NMC.
"Secara logika, infrastruktur seharusnya membaik setelah kelas dimulai. Kita tidak tahu mengapa kekurangan ini tiba-tiba muncul setelah ada protes identitas," katanya.
Bagi para mahasiswa seperti Saniya Jan (18), penutupan ini adalah mimpi buruk. Ia mengaku telah belajar sangat keras untuk lolos ujian NEET yang sangat kompetitif sebelum akhirnya diterima di SMVDMI. Kini, ia terpaksa pulang ke rumah dengan ketidakpastian masa depan.
"Semuanya terasa hancur sekarang. Semua ini terjadi hanya karena identitas kami. Mereka mengubah prestasi kami menjadi persoalan agama," keluh Saniya dengan nada kecewa.
Menanggapi krisis ini, Kepala Menteri Jammu dan Kashmir, Omar Abdullah, mengecam tindakan kelompok yang memaksa penutupan kampus tersebut. Ia berjanji bahwa pemerintah daerah akan bertanggung jawab untuk memindahkan 50 mahasiswa tersebut ke kampus kedokteran lain di wilayah itu agar pendidikan mereka tidak terhenti.
"Orang biasanya berjuang untuk mendirikan perguruan tinggi kedokteran, namun di sini, perjuangan justru dilakukan untuk menutupnya. Anda telah bermain-main dengan masa depan mahasiswa," tegas Abdullah dalam pernyataannya.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]