Iran-Rusia Mesra, 2 Menteri Bertemu Bisik-Bisik Krisis Militer Timteng
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membahas peluang penyelesaian diplomatik konflik Iran dalam pembicaraan dengan Menlu Iran Abbas Araqchi pada Jumat (27/3/2026). Pembicaraan tersebut dilakukan berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Dalam pernyataannya, Moskow menyebut kedua pihak membahas secara rinci "krisis militer-politik paling sulit di Timur Tengah (Timteng)" yang disebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
"Terjadi pertukaran pandangan tentang prospek mengalihkan konflik ke jalur penyelesaian politik-diplomatik berdasarkan hukum internasional dan dengan mempertimbangkan kepentingan sah semua negara di kawasan tersebut," demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/3/2026).
Selain itu, Lavrov juga menyampaikan detail pengiriman bantuan kemanusiaan terbaru Rusia ke Iran, termasuk pasokan medis dalam jumlah besar.
Sebelumnya, Kementerian Situasi Darurat Rusia mengumumkan pengiriman 313 ton bantuan medis atas arahan Presiden Vladimir Putin.
"Ini adalah pengiriman besar kedua pasokan medis," tulis pernyataan tersebut, seraya menambahkan operasi tersebut terlaksana dengan dukungan Azerbaijan.
Di tengah eskalasi konflik, Rusia dan Iran diketahui telah menandatangani kemitraan strategis yang mencakup kerja sama politik, ekonomi, militer, dan energi, meski tidak mencakup pakta pertahanan bersama.
Di sisi lain, negara-negara Barat menuding Moskow memperkuat kemampuan militer Teheran. Dalam pertemuan G7, para menteri luar negeri Eropa disebut menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa Rusia membantu Iran, termasuk dalam pengembangan teknologi drone.
Sejumlah sumber keamanan Barat dan pejabat regional yang dekat dengan Teheran juga menyebut Rusia menyediakan citra satelit serta dukungan teknis untuk meningkatkan kemampuan drone Iran, yang dinilai menyerupai teknologi yang digunakan Moskow dalam perang di Ukraina.
Konflik di Timur Tengah sendiri kian memanas sejak serangan terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu serangan balasan berupa drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan, serta berdampak pada korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan terhadap pasar global serta penerbangan.
(dce) Add
source on Google