Purbaya: Gara-gara Perang Amerika Kelabakan, Rakyat Mulai Marah
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel kepada Iran ternyata membuat Presiden Donald Trump kini pusing. Balasan Iran dengan menutup Selat Hormuz membawa harga minyak melonjak dan memukul warga AS.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada wartawan di kantornya, Jakarta, dikutip Kamis (26/3/2026).
"Sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100%, rakyatnya mulai marah," jelasnya.
Trump yang mulai tertekan saat ini, berencana mengambil langkah untuk membuat harga minyak kembali stabil. Ia bahkan meminta bantuan kepada banyak negara agar Selat Hormuz kembali dibuka karena sekitar 10-15% aliran minyak dunia tersendat.
"Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tapi di sana," paparnya.
Melansir dari The Economist, kenaikan ini cepat masuk ke dalam negeri. Harga bensin naik dan terlihat jelas di SPBU. Angkanya besar, mudah dibaca, dan berubah dalam hitungan hari. Bagi para pemilih atau voters Trump, ini pengeluaran harian dan bukan issue yang jauh dari mereka.
Efeknya lebih terasa di wilayah basis Partai Republik. Struktur pajak membuat harga di tingkat konsumen bergerak lebih cepat mengikuti lonjakan minyak global. Saat harga dunia naik, harga di pompa ikut melonjak lebih dalam.
Tekanan seperti ini punya rekam jejak politik. Presiden yang menghadapi lonjakan harga energi sering kehilangan dukungan. Pola itu muncul berulang dalam beberapa dekade terakhir di Amerika.
Kondisi sekarang mulai bergerak ke arah yang sama. Dukungan terhadap perang terbatas di luar basis Republik. Di dalam basisnya, dukungan kuat mulai berkurang. Kelompok muda dan Latino termasuk yang paling cepat terdampak karena porsi belanja energi mereka lebih besar.
Dampak ekonomi merambat ke sektor riil. Harga solar naik, biaya operasional usaha ikut naik. Pelaku usaha kecil di wilayah pedesaan mulai merasakan tekanan. Di sektor pertanian, kekhawatiran datang dari pupuk yang berbasis gas alam. Jika harga gas naik, biaya produksi ikut terdorong.
Situasi ini masuk ke arena politik menjelang pemilu paruh waktu. Demokrat berada dalam posisi yang lebih kuat. Beberapa negara bagian kunci mulai bergerak, terutama yang menjadikan biaya hidup sebagai isu utama kampanye.
(mij/mij) Add
source on Google