Efek Lebaran, Ekonom Ramal Ekonomi Kuartal I Bisa Tumbuh 5,5%

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 26/03/2026 17:40 WIB
Foto: Kementerian Perhubungan mengimbau seluruh operator transportasi di semua moda untuk mengutamakan keselamatan dalam menghadapi arus balik Lebaran 2026, 25/3. (BKIP Kemenhub)

Jakarta, 26 Maret 2026 - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin optimistis momentum Hari Raya Idulfitri, beserta sejumlah inisiatif pemerintah, akan mendorong Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah momentum peningkatan konsumsi sepanjang kuartal ini, bahkan sejak awal periode.


Pada awal tahun, misalnya, aktivitas konsumsi meningkat seiring perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selanjutnya, pada pertengahan kuartal I, kegiatan ekonomi didorong oleh momentum Imlek dan Ramadan. Memasuki Maret sebagai akhir kuartal I, konsumsi pun kembali meningkat seiring perayaan Idulfitri.

Ia menjelaskan, secara tren, momentum Nataru dan Idulfitri kerap menyumbang sekitar 30-40 persen dari total belanja ritel tahunan. Oleh karena itu, ia meyakini aktivitas konsumsi tersebut akan tercermin pada pertumbuhan ekonomi kuartal I.

"Belanja masyarakat selama Nataru dan Lebaran akan berdampak sangat tinggi bagi ekonomi kuartal I 2026, sehingga target pertumbuhan 5,5 persen akan tercapai," ujar Wijayanto, Kamis (26/3).

Lebih lanjut, ia menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal I akan terdistribusi secara merata, mengingat masyarakat, khususnya pemudik, cenderung membelanjakan uangnya di daerah asal. Hal ini diharapkan dapat membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I menjadi lebih inklusif.

"Lebaran selalu mempunyai dampak besar bagi geliat ekonomi, termasuk ekonomi daerah yang mendapatkan guyuran dana dari para pemudik," imbuh dia.

Kemudian, ia juga menuturkan bahwa stimulus ekonomi pemerintah juga memiliki peranan besar dalam mendongkrak konsumsi di kuartal I. Bahkan, kebijakan Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi ojek daring disebutnya juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal ini, meski dampaknya diproyeksi relatif terbatas.

"Nilai BHR sebesar Rp400 miliar mungkin belum signifikan jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Indonesia. Kendati demikian, bagi driver ojol, ini merupakan bantuan yang luar biasa bermanfaat dan pantas diapresiasi," pungkas dia.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa aktivitas mudik dan libur Lebaran diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. Sebab, secara tren, mudik menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, serta sektor jasa transportasi.

"Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto.

Lebih lanjut, ia mengatakan optimisme tersebut juga didukung oleh berbagai kebijakan stimulus, antara lain alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial sebesar Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjelang Idulfitri, serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.

Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53-54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), berbagai stimulus tersebut diproyeksikan mampu memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi nasional.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Godok Stimulus Ekonomi - Filipina Darurat Energi