Perang Iran Bikin Harga Meledak, Negara Miskin Mulai Tercekik
Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mulai terasa luas, terutama bagi negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan, termasuk penutupan Selat Hormuz dan serangan ke fasilitas migas di kawasan Teluk, memukul keras ekonomi Global South.
Sejumlah negara seperti Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Yordania, Mesir, hingga Ethiopia menghadapi tekanan ganda. Selain bergantung pada impor energi, kapasitas fiskal mereka terbatas untuk meredam kenaikan harga.
Di Pakistan, yang mengimpor sekitar 80% kebutuhan energinya, pemerintah mengambil langkah darurat untuk menghemat bahan bakar. Mulai dari penutupan sekolah, penerapan kerja empat hari bagi kantor pemerintah, hingga kebijakan work from home bagi sebagian aparatur negara.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan memutuskan tidak menaikkan harga bensin dan solar menjelang Idul Fitri, dengan menegaskan pemerintah akan "menanggung beban" kenaikan biaya tersebut. Sebelumnya, pemerintah telah menyetujui kenaikan harga sebesar 55 rupee atau sekitar Rp3.200.
Meski subsidi membantu menahan tekanan, risiko tetap besar. Direktur Eksekutif Institute of Business Administration Karachi, S Akbar Zaidi, menilai dampak penuh belum sepenuhnya dirasakan.
"Kejutan keseluruhannya cukup parah, meskipun belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen dan industri," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (25/3/2026). "Saya memperkirakan beberapa minggu ke depan akan memperburuk keadaan setelah gangguan dan faktor harga berlalu."
Krisis serupa juga terjadi di Bangladesh yang mengimpor sekitar 95% minyaknya. Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami kehabisan bahan bakar meski pemerintah telah menerapkan penjatahan.
Sementara itu, Sri Lanka menetapkan hari libur setiap Rabu dan memberlakukan sistem tiket bahan bakar guna menekan konsumsi energi. Negara tersebut masih dalam proses pemulihan dari krisis ekonomi sejak 2019.
Di Mesir, pemerintah menerapkan pembatasan operasional pusat perbelanjaan dan kafe, serta mengurangi penerangan publik. Pada 10 Maret, harga bahan bakar dinaikkan 15% hingga 22% untuk menekan beban subsidi.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyebut kebijakan itu sebagai langkah yang tak terhindarkan. Ia memperingatkan tanpa penyesuaian, negara bisa menghadapi "hasil yang lebih keras dan berbahaya".
Tekanan semakin berat akibat depresiasi mata uang di banyak negara berkembang. Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global membuat biaya impor, termasuk energi, melonjak tajam.
Dampak konflik juga langsung dirasakan masyarakat. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi pangan, terutama di negara yang sangat bergantung pada diesel untuk transportasi dan pertanian.
Peneliti Institute of Sustainable Development Policy di Islamabad, Khalid Waleed, memperingatkan efek domino akan segera terlihat.
"Biaya truk sudah mulai meningkat, dan itu akan memengaruhi segalanya, mulai dari tepung hingga pupuk dalam beberapa minggu mendatang," ujarnya. Ia menambahkan, jika harga diesel tetap tinggi hingga musim panen April-Mei, Pakistan berisiko menghadapi lonjakan inflasi pangan yang signifikan.
Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, para analis memperkirakan tekanan ekonomi di negara berkembang masih akan memburuk sebelum membaik.
(tfa/tfa) Add
source on Google