MARKET DATA

Krisis LPG, Warga India Kembali Masak Pakai Kayu dan Arang

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
24 March 2026 19:15
Seorang petugas pengiriman membawa tabung LPG dengan sepeda, di tengah gangguan pasokan menyusul konflik AS-Israel dengan Iran, di New Delhi, India, 10 Maret 2026. (REUTERS/Bhawika Chhabra)
Foto: Seorang petugas pengiriman membawa tabung LPG dengan sepeda, di tengah gangguan pasokan menyusul konflik AS-Israel dengan Iran, di New Delhi, India, 10 Maret 2026. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) mulai terasa di India. Lonjakan harga LPG di pasar gelap memaksa warga miskin kembali menggunakan kayu dan arang untuk memasak, memicu risiko kesehatan hingga memperburuk polusi udara.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah gangguan pasokan energi global akibat perang di Timur Tengah. India yang merupakan salah satu importir terbesar LPG sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.

Di ibu kota New Delhi, harga tabung gas melonjak drastis. Warga yang sebelumnya membeli LPG sekitar 1.800-2.000 rupee kini harus merogoh kocek hingga 5.000 rupee di pasar gelap atau hampir setara dengan gaji bulanan sebagian pekerja.

Seorang pekerja rumah tangga, Sheela Kumari (36), mengaku terpaksa berhenti menggunakan LPG karena tak lagi mampu membelinya.

"Dulu kami masih bisa beli, sekarang tidak mungkin. Kami akhirnya kembali pakai kayu dan arang," ungkapnya, dikutip dari AFP, Selasa (24/3/2026).

Menurutnya, satu tabung gas 14 kilogram hanya cukup untuk 15-20 hari bagi keluarganya. Sementara itu, kayu bakar jauh lebih murah dan bisa digunakan beberapa hari dengan biaya sangat rendah.

Namun, pilihan tersebut membawa konsekuensi. Asap dari kayu dan arang meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak.

"Anak-anak saya jadi sering batuk, tapi kami tidak punya pilihan lain," katanya.

Warga lain, Munni Bai (45), yang memiliki riwayat asma, sebelumnya beralih ke kompor listrik dan biogas demi kesehatan. Namun, mahalnya LPG membuatnya kembali menggunakan bahan bakar tradisional.

"Gas terlalu mahal. Kami tidak bisa bergantung pada itu lagi," ujarnya.

Aktivis menilai masalah ini tidak hanya soal pasokan, tetapi juga akses. Banyak pekerja migran tidak memiliki dokumen untuk mendapatkan LPG subsidi, sehingga bergantung pada pasar informal yang kini mengalami lonjakan harga akibat penimbunan.

"Belum ada kekurangan besar, tapi penimbunan meningkat. Harga di pasar gelap naik dua hingga tiga kali lipat," kata seorang peneliti dari Centre for Advocacy and Research (CFAR).

Kondisi ini memperparah kualitas udara di New Delhi, yang selama ini sudah dikenal sebagai salah satu kota dengan polusi tertinggi di dunia. Penggunaan kayu, arang, dan biomassa di dalam rumah meningkatkan paparan partikel berbahaya. Dampaknya paling besar dirasakan perempuan dan anak-anak yang lebih sering berada di area dapur.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah India sebenarnya mendorong penggunaan energi bersih melalui program "Ujjwala" dengan menyediakan lebih dari 100 juta sambungan LPG bagi rumah tangga miskin. Namun, lonjakan harga kini mengancam keberlanjutan program tersebut.

(wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article SKK Migas Beberkan Sederet Proyek Penghasil Bahan Baku LPG


Most Popular
Features