Internasional

Rencana Perang AS di Iran Berantakan, Tujuan Tak Jelas-Trump Terpojok

luc, CNBC Indonesia
Minggu, 22/03/2026 10:30 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump menghadiri upacara penganugerahan Medali Kehormatan di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 2 Maret 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki pekan ketiga perang dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam dan luar negeri. Perang yang sebelumnya ia sebut hanya akan menjadi "tamasya singkat" kini berkembang menjadi krisis yang lebih kompleks dengan ditandai lonjakan harga energi global, sekutu yang menjauh, dan pengerahan ribuan pasukan tambahan.

Trump pada akhir pekan ini tetap mempertahankan sikap defensif. Ia bahkan menyebut negara-negara anggota NATO sebagai pengecut karena menolak membantu mengamankan Selat Hormuz. Meski begitu, ia menegaskan operasi militer yang dilancarkan Washington berjalan sesuai rencana.

Pernyataannya bahwa pertempuran tersebut yang telah dimenangkan secara militer justru berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Iran masih melakukan perlawanan, termasuk mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk serta meluncurkan serangan rudal di berbagai wilayah.


Trump, yang saat kampanye menjanjikan akan menjauhkan AS dari intervensi militer "bodoh", kini dinilai tidak sepenuhnya mengendalikan arah konflik yang turut ia mulai. Ketiadaan strategi keluar yang jelas juga berpotensi menimbulkan dampak politik, baik bagi warisan kepresidenannya maupun bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.

"Trump telah membangun kotak untuk dirinya sendiri yang disebut perang Iran, dan ia tidak bisa menemukan cara untuk keluar darinya," kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah yang pernah bekerja di pemerintahan Partai Republik maupun Demokrat, dilansir Reuters, Minggu (22/3/2026). "Itulah sumber frustrasi terbesarnya."

Seorang pejabat Gedung Putih menolak penilaian tersebut. Ia menegaskan bahwa banyak pemimpin tertinggi Iran telah dieliminasi dalam operasi pembunuhan terarah, sebagian besar armada lautnya telah ditenggelamkan, dan sebagian besar persenjataan rudal balistiknya telah dihancurkan.

"Ini merupakan keberhasilan militer yang tidak terbantahkan," kata pejabat tersebut.

Batas Kekuasaan Trump

Perkembangan dalam sepekan terakhir memperlihatkan keterbatasan pengaruh Trump di berbagai bidang seperti diplomatik, militer, maupun politik.

Menurut seorang pejabat Gedung Putih lainnya yang berbicara secara anonim, Trump sempat terkejut ketika sejumlah sekutu NATO dan mitra internasional menolak mengirimkan angkatan laut mereka untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat sebagian staf Gedung Putih menyarankan agar Trump segera mencari jalan keluar. Seorang sumber yang mengetahui diskusi internal mengatakan beberapa penasihat mendorong presiden menemukan jalan keluar cepat dengan membatasi ruang lingkup operasi militer. Namun belum jelas apakah saran itu cukup untuk mempengaruhi keputusan Trump.

Sebagian analis menilai sikap dingin para sekutu bukan hanya karena mereka enggan terseret dalam perang yang tidak mereka konsultasikan sebelumnya. Penolakan itu juga dianggap sebagai reaksi atas cara Trump meremehkan aliansi tradisional AS sejak kembali menjabat 14 bulan lalu.

Perbedaan pandangan juga mulai terlihat antara Washington dan Israel. Trump menyatakan bahwa ia tidak mengetahui sebelumnya tentang serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran. Namun pejabat Israel mengatakan serangan tersebut memang telah dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.

Menurut para analis, Trump kini berada di persimpangan dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury tanpa arah yang benar-benar jelas.

Salah satu opsi adalah meningkatkan ofensif militer AS, bahkan mungkin merebut pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg atau menempatkan pasukan di sepanjang pantai Iran untuk memburu peluncur rudal. Namun langkah itu berisiko menyeret Washington ke dalam komitmen militer jangka panjang yang kemungkinan besar tidak didukung publik AS.

Pilihan lain adalah menyatakan kemenangan dan mundur dari konflik. Tetapi langkah tersebut dapat membuat sekutu Amerika di Teluk merasa ditinggalkan menghadapi Iran yang masih kuat dan bermusuhan.

Iran juga dinilai masih berpotensi mengembangkan senjata nuklir sederhana serta mempertahankan pengaruhnya atas jalur pelayaran di Teluk, meskipun Teheran membantah sedang mengupayakan senjata nuklir.

Laporan Reuters pada Jumat juga menyebut militer AS sedang mengirim ribuan marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah, meskipun belum ada keputusan untuk mengerahkan pasukan langsung ke wilayah Iran.

Tekanan Politik dan Ekonomi

Perang ini juga memperlihatkan mulai melemahnya pengaruh Trump di dalam gerakan politiknya sendiri, MAGA. Sejumlah influencer terkemuka mulai mengkritik konflik tersebut.

Meski basis pendukungnya masih sebagian besar berdiri di belakangnya, para analis menilai dukungan itu bisa goyah jika harga bahan bakar terus naik dan lebih banyak pasukan Amerika dikirim ke kawasan.

Strategis Partai Republik Dave Wilson mengatakan dampak ekonomi akan segera terasa bagi masyarakat.

"Seiring dampak ekonomi mulai terasa," katanya, "orang-orang akan mulai berkata: 'Mengapa saya harus membayar harga bensin tinggi lagi? ... Mengapa Selat Hormuz sekarang menentukan apakah saya bisa berlibur bulan depan atau tidak?'"

Kesalahan Perhitungan

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, sejumlah pejabat dalam pemerintahan Trump mulai menyadari bahwa konsekuensi konflik ini seharusnya dipetakan lebih matang sejak awal. Dua sumber yang mengetahui pemikiran internal Gedung Putih mengatakan kesadaran tersebut semakin berkembang seiring perang berlangsung.

Namun pejabat Gedung Putih pertama yang diwawancarai Reuters menolak pandangan itu. Ia menegaskan bahwa kampanye militer telah direncanakan secara menyeluruh dan dipersiapkan untuk berbagai kemungkinan.

Para analis menilai kesalahan terbesar Trump adalah memperkirakan secara keliru bagaimana Iran akan merespons konflik yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial.

Teheran membalas dengan meluncurkan rudal yang masih tersisa serta armada drone bersenjata untuk mengimbangi keunggulan militer lawannya. Iran juga menyerang negara-negara Teluk dan sebagian besar menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Terlepas dari apakah risiko tersebut telah diprediksi sebelumnya, pemerintahan Trump dinilai belum mampu mengatasinya secara efektif.

"Mereka gagal memikirkan skenario-skenario kemungkinan di mana konflik dengan Iran bisa berjalan menyimpang, di mana situasi mungkin tidak berjalan sesuai rencana yang mereka susun," kata John Bass, mantan duta besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Afghanistan dan Turki.

Seiring konflik berlarut-larut, tanda-tanda frustrasi Trump juga semakin terlihat, terutama terkait pengendalian narasi publik. Dalam beberapa hari terakhir ia menyerang media, bahkan melontarkan tuduhan tanpa bukti mengenai "treason" atau pengkhianatan terhadap laporan yang menurutnya merugikan upaya perang.

Menurut Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di pemerintahan Obama yang kini memimpin konsultan strategi Situation Room di Washington, Trump terlihat kesulitan mengendalikan pemberitaan seperti sebelumnya.

"Ia kesulitan mengendalikan siklus berita seperti yang biasa ia lakukan, karena ia masih belum bisa menjelaskan mengapa ia membawa negara ini ke perang dan apa langkah berikutnya," kata Bruen. "Ia tampaknya telah kehilangan sentuhan dalam mengelola pesan."

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Pastikan Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Konflik Global