Ekonomi Kuba Terpuruk, Tekanan Trump Bikin Devisa Anjlok & BBM Seret
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis ekonomi Kuba makin dalam setelah tekanan Amerika Serikat (AS) memutus pasokan energi dan sumber devisa. Dampaknya, ekonomi menyusut, ekspor memburuk, hingga daya beli warga jatuh ke titik terendah, dan memaksa pemerintah mulai melunak.
Melansir The Economist, kondisi Kuba kini berada di ambang krisis serius. Kekurangan bahan bakar meluas, listrik sering padam, dan aktivitas ekonomi lumpuh. Bahkan, gaji bulanan rata-rata rakyat Kuba sekarang hampir tidak cukup untuk membeli selusin butir telur.
Sebelum krisis terbaru, Kuba mengonsumsi sekitar 100 ribu barel minyak per hari, namun hanya mampu memproduksi 40 ribu barel. Sisanya bergantung pada impor, terutama dari Venezuela sekitar 30 ribu barel per hari, yang kini terhenti akibat tekanan AS.
Pasokan dari negara lain seperti Rusia dan Meksiko juga ikut tersendat setelah Washington mengancam tarif bagi negara yang tetap memasok energi ke Kuba. Kapal terakhir pembawa 200 ribu barel diesel bahkan berbalik arah pada akhir Februari.
Dampaknya merembet ke seluruh sektor. Maskapai membatalkan penerbangan, hotel kosong, hingga layanan rumah sakit dikurangi.
Di sisi makro, fundamental ekonomi Kuba memang sudah lama rapuh, Nilai ekspor anjlok setidaknya 75% sepanjang 2000-2025, sementara kontribusi sektor pertanian turun dari 52% menjadi hanya 15%.
Pendapatan devisa negara pada 2025 hanya sekitar US$9 miliar, sekitar seperempat dari negara sebanding seperti Honduras.
Cadangan devisa pun menipis. Sejumlah pejabat memperkirakan bank sentral hanya memiliki sekitar US$3 miliar. Bahkan, GDP Kuba diproyeksikan terkontraksi 7,2% pada 2026.
Sumber devisa utama juga ikut terpukul. Ekspor tenaga medis yang sebelumnya menghasilkan sekitar US$4 miliar, kini ditekan oleh AS. Sektor pariwisata, manufaktur, dan pertambangan, yang menyumbang sekitar US$2 miliar, ikut kolaps akibat krisis bahan bakar.
Kini, hanya remitansi atau layanan pengiriman uang yang masih relatif bertahan, sekitar US$3 miliar per tahun.
Tekanan ekonomi ini memicu gejolak sosial. Jumlah protes melonjak dari 30 kasus pada Januari menjadi 130 pada paruh pertama Maret. Di saat yang sama, populasi menyusut dari 11,2 juta jiwa menjadi sekitar 8,6 juta jiwa sejak 2021 akibat gelombang emigrasi.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Kuba mulai melonggarkan kebijakan. Diaspora kini diizinkan berinvestasi dan sektor swasta diperbolehkan mengimpor bahan bakar, langkah liberalisasi terbesar sejak 1990-an.
Namun, langkah ini dinilai belum cukup. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, "tidak cukup dramatis... Itu tidak akan menyelesaikan masalah."
Kuba kini juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan Amerika. Seorang pejabat menyebut negaranya siap menjalin 'Hubungan komersial yang dinamis' dengan perusahaan-perusahaan Amerika.
Meski begitu, posisi tawar Kuba dinilai sangat lemah. Seorang pejabat AS menyebut negara itu kini "di atas tong" dan kemungkinan akan "Lakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa mereka."
(fsd/fsd) Add
source on Google