MARKET DATA
Internasional

Profil Soleimani, Jenderal Perang Iran yang Tewas di Tangan Israel-AS

Redaksi,  CNBC Indonesia
18 March 2026 07:20
Profil Gholamreza Soleimani, seorang perwira senior di Korps Garda Revolusi Islam yang memimpin pasukan Basij. (AFP/ATTA KENARE)
Foto: Profil Gholamreza Soleimani, seorang perwira senior di Korps Garda Revolusi Islam yang memimpin pasukan Basij. (AFP/ATTA KENARE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij Iran, telah tewas dalam serangan AS-Israel. Hal ini telah dikonfirmasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam pernyataan yang dibagikan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Selasa (17/3) waktu setempat, IRGC mengatakan pria berusia 62 tahun itu tewas dalam "serangan oleh musuh Amerika-Zionis".

Soleimani adalah komandan pasukan keamanan internal terkuat di negara itu selama enam tahun terakhir dan seorang veteran Perang Iran-Irak, yang telah bertempur di garis depan.

Iran juga mengonfirmasi pada Rabu (18/3) pagi bahwa Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, telah tewas.

Seiring meningkatnya penargetan pasukan AS dan Israel terhadap Basij dan aparat militer lainnya, Soleimani muncul sebagai tokoh sentral dalam perang yang telah menyebabkan tokoh-tokoh politik dan militer terkemuka Iran tewas.

Perjalanan Hidup Soleimani

Dikutip dari Aljazeera, Rabu (18/3/2026), Soleimani lahir pada 1964 di kota Farsan di provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari. Karier militernya ditempa di parit-parit Perang Iran-Irak 1980-1988.

Ia tidak memiliki hubungan keluarga dengan Qassem Soleimani, mendiang komandan Pasukan Quds, sayap rahasia elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang dibunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad pada tahun 2020.

Pada 1981, Gholamreza Soleimani dikerahkan ke garis depan Shush di perbatasan Irak sebagai sukarelawan remaja. Selama konflik delapan tahun yang melelahkan itu, ia berpartisipasi dalam beberapa serangan besar, termasuk Operasi Tariq al-Qods, Fath ol-Mobin, dan Beit ol-Moqaddas, bertugas sebagai pejuang dan komandan batalion.

Ia bergabung dengan IRGC pada tahun 1982.

Setelah perang, Soleimani memegang berbagai komando regional tingkat tinggi. Perannya yang paling menonjol dimulai pada 2006, ketika ia mengambil alih komando Korps Saheb al-Zaman di provinsi Isfahan, menjadi komandan pertama yang secara bersamaan mengawasi pasukan Basij lokal dan unit tempur IRGC resmi. Pada Juli 2017, ia secara resmi dipromosikan ke pangkat brigadir jenderal.

Menurut biografi resminya yang diterbitkan media Iran, Soleimani memegang gelar sarjana sejarah dari Universitas Isfahan. Ia juga merupakan kandidat doktor yang sedang mempersiapkan untuk mempertahankan tesisnya tentang sejarah Islam Iran, meskipun media pemerintah tidak menyebutkan institusi tersebut.

Menjadi Pemimpin Basij

Pada 2 Juli 2019, Khamenei menunjuk Soleimani sebagai kepala Basij, pasukan paramiliter sukarelawan di bawah IRGC. Basij bertugas menegakkan keamanan internal melalui cabang-cabang lokal di seluruh negeri.

Baik Basij maupun IRGC dibentuk pada 1979 setelah revolusi Islam menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung AS.

Dekrit resmi tersebut menugaskan Soleimani untuk "meningkatkan Basij dan budaya perlawanan" sambil memperluas kelompok bersenjata dan memperdalam nilai-nilai revolusioner di kalangan pemuda Iran.

Sebagai komandan Basij, Soleimani sering dikerahkan untuk meredam kerusuhan domestik. Pada November 2019, beberapa bulan setelah ia mengambil alih komando, Basij terlibat secara besar-besaran dalam penindasan kekerasan terhadap protes anti-pemerintah di seluruh negeri.

Pasukan paramiliter dengan perkiraan 450.000 personel ini sering dikerahkan untuk menekan protes terhadap pemerintah dan telah memainkan peran utama dalam menekan pemberontakan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Revolusi Hijau 2009 dan protes 2022-2023 setelah kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi.

Baru-baru ini, pasukannya dikerahkan pada Januari untuk menekan demonstrasi anti-pemerintah di seluruh Iran, di mana ribuan warga Iran dilaporkan tewas.

Sebagai pembela setia pemerintah Iran, Soleimani telah dikenai sanksi oleh banyak negara dan organisasi Barat, termasuk AS, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada.

Pada 2021, Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepadanya, dengan mencatat bahwa pasukan Basij di bawah komandonya menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran yang tidak bersenjata.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Siaga Tempur Level Tertinggi, Trump Beri Peringatan Keras


Most Popular
Features