Harga Minyak Dunia Tembus US$ 100/Barel, Gimana Nasib Harga BBM RI?

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 17/03/2026 16:20 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Selasa pagi (17/3/2026) kembali menguat menembus US$ 100 per barel setelah sempat terkoreksi tajam pada sesi sebelumnya.

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan global kembali mencuat seiring terganggunya jalur energi vital di Timur Tengah akibat konflik yang masih berlangsung.

Berdasarkan data Refinitiv pada Selasa (17/3/2026) pukul 09.10 WIB, harga minyak Brent tercatat berada di US$ 103,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 95,96 per barel. Keduanya melonjak dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, yang masing-masing berada di US$ 100,21 untuk Brent dan US$ 93,50 untuk WTI.


Dengan harga minyak yang terus melonjak ini, bagaimana nasib harga Bahan Bakar Minyak (BBM) RI? Khususnya untuk jenis BBM subsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi? Terlebih, harga minyak di pasar global tersebut sudah jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang ditetapkan pada APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel.

Terkait hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, negara akan tetap hadir memberikan subsidi untuk harga BBM ke masyarakat, khususnya untuk jenis BBM subsidi.

"Menyangkut harga, negara akan tetap hadir untuk subsidi. Tetap akan hadir. Berapa harga subsidinya, itu kita lihat perkembangan geo, perkembangan geopolitik. Tapi kalau dengan harga insya Allah kalau 100 dolar, rata-rata sekarang kan 70 dolar. Kalau mau 100 dolar, itu insya Allah masih dalam koridor APBN, masih bisa kita exercise. Tapi ini masih dalam pembahasan," jelasnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Bahlil pun kembali meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah memastikan ketersediaan BBM, LPG dan listrik dalam keadaan terkendali, sesuai dengan standar minimal stok nasional, meski di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik dunia saat ini.

"Alhamdulillah ya, alhamdulillah kita sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai. Tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka. Artinya bagi kapal-kapal, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika, itu bisa sekarang untuk terjadi komunikasi. Dan ini sebenarnya adalah sebuah perkembangan yang positif. Itu dulu," jelasnya.

"Yang kedua, seperti apa yang saya sampaikan kepada teman-teman media dalam waktu beberapa hari terakhir, bahwa ketersediaan BBM, LPG, listrik untuk Indonesia semuanya masih dalam keadaan terkendali, aman, sesuai dengan standar minimal stok nasional kita," ujarnya.

"Nah, untuk menyangkut dengan LPG kita juga sekarang di akhir bulan ini akan ada yang masuk juga. Jadi relatif oke, yang mau hari raya enggak ada masalah. Batu bara juga untuk PLN rata-rata di 14, 15 hari itu memang batas minimal standar nasional kita. Jadi relatif enggak ada isu," paparnya.

"Avtur juga dalam pantauan kami berkomunikasi betul dengan Pertamina, juga dalam kondisi terkendali," imbuhnya.

Dia pun menyebut pemerintah tengah mengkaji sejumlah langkah untuk menghemat konsumsi BBM, salah satunya terkait bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH).

"Memang ada beberapa langkah-langkah yang akan dilakukan tapi sedang dikaji, lagi dikaji, tentang apakah kita butuhkan WFH. Tetapi menurut saya, semua kemungkinan itu bisa terjadi, yang penting adalah penghematan terhadap BBM itu juga penting. Di samping memang kita menghemat impor, itu juga menghemat pengeluaran bagi seluruh masyarakat yang ada di Indonesia," jelasnya.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tok! Pemerintah Pastikan Harga Pertalite dan Solar Tidak Naik