Perang Iran Vs AS Ancam Harga BBM Subsidi Naik? Ini Kata Airlangga
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah acuan Indonesia (ICP) berpeluang meningkat seiring dengan harga minyak mentah dunia yang melewati US$100/barel karena perang yang berkecamuk di Timur Tengah.
Berdasarkan Refinitiv hingga pukul 08.55 WIB Senin (16/3/2026), harga minyak Brent tercatat di level US$103,8 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$98,45 per barel. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai harga BBM dalam negeri terancam naik.
Meskipun demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat ini belum ada rencana kenaikan harga BBM, khususnya BBM bersubsidi. Pasalnya masih terlalu dini menurutnya untuk memperkirakan berapa lama perang akan berlangsung.
"Namun kita belum lihat angkanya, makanya belum ada dan angkanya mesti kelihatan dulu Karena belum kelihatan Belum ada, jadi belum kelihatan. Siapa tau besok perang selesai," ungkapnya.
Meskipun demikian, dalam rapat kabinet Airlangga menjabarkan telah menyiapkan beberapa skenario lama waktu perang dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia akan bertahan di kisaran US$90 - US$100 per barel.
Airlangga menjabarkan beberapa skenario bila terjadi perubahan asumsi harga minyak hingga nilai tukar (kurs). Tiga skenario itu antara lain:
1. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 86/barel, kurs Rp 17.000 per US$, sementara di APBN asumsi kursnya Rp 16.500 per US$, kemudian dengan growth dipertahankan di 5,3%, surat berharga negara angkanya lebih tinggi 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18%.
2. Skenario moderat kedua dengan harga ICP US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300, growth 5,2%, SBN lebih tinggi lagi di 7,2%, maka defisit mencapai 3,53%.
3. Skenario terburuk pesimis, dengan harga ICP US$ 115 per barel, kurs Rp 17.500, growth 5,2% SBN 7,2% defisitnya 4,06%.
Seperti diketahui, pada 2022 juga terjadi perang antara Rusia dan Ukraina yang menyebabkan ICP mencapai di atas US$100/barel di awal hingga pertengahan 2022 dan setelahnya pada September ada kenaikan harga BBM subsidi, Pertalite.
Meskipun demikian, Airlangga kembali menegaskan bahwa Pemerintah belum ada keputusan lebih lanjut mengenai nasib harga bbm subsidi ke depan.
"Nanti kita lihat berapa jauh. Tidak ada rule of thumbnya kan tidak begitu," ucap Airlangga.
Sebagai informasi, lonjakan tajam harga minyak mentah dunia yang terjadi sejak awal Maret menempatkan minyak pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur distribusi energi global.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta gangguan pada jalur vital pengiriman minyak dunia di selat Hormuz, membuat pasar kembali berada dalam mode krisis energi.
(ras/haa) Add
source on Google