Bahlil Dorong Raksasa Jepang Percepat Investasi Rp339 Triliun di RI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 16/03/2026 15:20 WIB
Foto: Reuters/Bea Wiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong raksasa minyak dan gas bumi (migas) asal Jepang, Inpex Corporation, untuk mempercepat eksekusi proyek gas Lapangan Abadi Blok Masela. Pemerintah memastikan proyek bernilai US$ 20 miliar atau setara Rp 339,4 triliun (asumsi kurs Rp 16.970 per US$) tersebut segera memasuki tahap keputusan investasi akhir.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengapresiasi kemajuan proyek pengembangan blok migas tersebut yang saat ini sudah mencapai sekitar 25%. Ia meminta Inpex untuk segera memajukan tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal kedua atau selambatnya kuartal ketiga 2026 agar tender Engineering Procurement Construction (EPC) bisa berjalan secara paralel.

"Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC," ungkap Bahlil saat bertemu dengan CEO Inpex di Tokyo, Jepang, dilansir dari keterangan resmi, dikutip Senin (16/3/2026).


Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Bahlil memberikan solusi terkait kepastian penyerapan produksi gas alam cair (LNG) dari Lapangan Abadi Masela yang mencapai 9 juta ton per tahun (MTPA).

Ia menawarkan agar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membeli pasokan gas tersebut untuk program hilirisasi jika Inpex belum mendapatkan pembeli serius hingga akhir April 2026.

"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan Inpex dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli," tegasnya.

Menanggapi hal itu, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menyambut baik dorongan Indonesia. Ueda memastikan bahwa seluruh manajemen Inpex memiliki komitmen yang kuat untuk segera merealisasikan proyek yang telah lama dinantikan tersebut.

"Terima kasih banyak, Pak Menteri, untuk kemurahan hati dan komitmennya untuk mendukung proyek ini. Karena ini bukan hanya isu buat saya pribadi, tapi kami segera jajaran Inpex memiliki komitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi," ungkap Ueda.

Menurutnya, diskusi langsung dengan Pemerintah Indonesia memberikan dorongan moral yang besar bagi perusahaan. Pihaknya mengaku semakin termotivasi untuk segera menuntaskan pengembangan dan pembangunan infrastruktur blok migas tersebut.

"Bukan hanya Pak Menteri, tetapi juga kami memiliki komitmen yang sama untuk segera mengerjakan Abadi. Dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian proyek Abadi ini," tambahnya.

Dari sisi administratif, kelancaran Proyek Abadi Masela berprogres dengan sejumlah perizinan yang sudah dirampungkan pada awal tahun ini. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) telah diterbitkan pada pertengahan Februari 2026, menyusul turunnya persetujuan pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan pada bulan Januari lalu.

Jejak Penting Blok Masela

Inpex Masela Ltd merupakan pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%.

Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.

Setelah 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG ini.

Berikut jejak penting Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela:

1998: Kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani oleh Inpex

2000: Penemuan cadangan gas jumbo di Blok Masela

2019: Persetujuan Rencana Pengembangan Pertama (PoD-I) oleh Pemerintah Indonesia, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, dan 35.000 bph kondensat.

2023: Shell hengkang, Pertamina dan Petronas masuk memegang hak partisipasi masing-masing 20% dan 15%. Kemudian, Revisi 2 POD-I disetujui Pemerintah Indonesia, karena memasukkan fasilitas CCS.

2025: FEED OLNG resmi diluncurkan.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bangun Proyek Gas Jumbo Rp 352 T, Inpex Minta Insentif Ini