Jadi Korban Perang Iran, Malaysia Mau Tangguhkan Penerbangan Komersial
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Malaysia mengeluarkan peringatan serius mengenai masa depan industri penerbangan nasional akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Malaysia menyatakan bahwa maskapai-maskapai di negara tersebut kemungkinan besar perlu menangguhkan beberapa jadwal penerbangan jika perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran mendorong biaya bahan bakar melonjak hingga ke level yang tidak terkendali.
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke Siew Fook, memberikan penjelasan mendalam melalui pernyataan resmi pada Rabu, (11/03/2026). Loke menggarisbawahi bahwa struktur biaya maskapai saat ini sangat bergantung pada harga minyak mentah dunia yang sedang bergejolak akibat ketegangan geopolitik.
"Bahan bakar jet mencakup hampir setengah dari biaya operasional maskapai," kata Loke kepada Bloomberg yang juga dikutip Strait Times.
Loke sebelumnya telah memimpin pertemuan darurat yang melibatkan manajemen maskapai nasional, operator bandara, pemasok bahan bakar jet, hingga otoritas penerbangan. Pertemuan ini dilakukan untuk mengoordinasikan respons strategis negara terhadap dampak ekonomi dari perang yang melibatkan Iran tersebut.
"Kementerian Transportasi akan berdiskusi dengan bandara dan pemangku kepentingan terkait untuk mendukung kelangsungan hidup maskapai penerbangan lokal," ujar Loke.
Selain fokus pada subsidi dan efisiensi, Loke mewajibkan seluruh maskapai untuk berbagi data operasional secara transparan dengan otoritas penerbangan Malaysia. Hal ini bertujuan agar pemerintah dapat melakukan penilaian risiko yang lebih akurat terhadap stabilitas sektor transportasi udara.
"Semua pihak juga setuju untuk bertemu setiap minggu karena krisis ini tetap volatil dan memerlukan tindakan cepat jika terjadi perkembangan baru," tutur Loke.
Pemerintah Malaysia juga menaruh perhatian khusus pada rantai pasok logistik di tengah kondisi geopolitik yang kian memanas. Loke menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan distribusi barang kebutuhan pokok tidak terhambat oleh masalah transportasi udara.
"Dalam jangka pendek, Malaysia perlu memastikan bahwa layanan kargo udara untuk barang-barang seperti makanan dapat terus beroperasi meskipun kondisinya semakin menantang, terutama menjelang perayaan Idulfitri minggu depan," ucap Loke.
Kekhawatiran Loke ini muncul seiring dengan lonjakan harga minyak mentah global yang telah melampaui level psikologis akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz. Perang yang melibatkan Iran telah memicu spekulasi pasar bahwa harga avtur akan terus melambung tinggi, yang pada gilirannya dapat memaksa maskapai melakukan pemangkasan kapasitas besar-besaran atau menaikkan harga tiket secara drastis guna menutupi pembengkakan biaya bahan bakar tersebut.
(tps/tps) Add
source on Google