Eksportir RI Curhat ke Mendag Soal Dampak Perang AS-Israel Vs Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan hasil pertemuannya dengan para eksportir terkait potensi dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap kinerja ekspor Indonesia, khususnya ke kawasan Timur Tengah.
Budi mengatakan, pemerintah sudah bertemu dengan pelaku usaha untuk mendengar langsung kondisi di lapangan. Dari pertemuan tersebut, eksportir mengakui konflik di kawasan Timur Tengah memang memberi pengaruh, terutama terhadap pengiriman barang.
"Sudah ketemu. Dia menyampaikan kalau memang ada beberapa pengaruh terutama untuk yang ke Timur-Tengah. Tetapi sebenarnya permintaan dari timur-tengah itu tidak turun," kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, dampak yang paling terasa saat ini bukan pada permintaan komoditas, melainkan pada biaya pengiriman yang meningkat akibat situasi geopolitik yang memanas di kawasan tersebut.
"Ya, semua komoditas yang kita ekspor ke sana. Yang menjadi naik itu naik angkutannya. Kendalanya itu. Jadi makanya itu masalahnya," ujarnya.
Meski demikian, Budi menegaskan para eksportir masih tetap melanjutkan kegiatan ekspor ke kawasan Timur Tengah. Permintaan dari negara-negara di wilayah tersebut disebutnya masih stabil.
"Tapi dia tetap ekspor. Cuma permintaan dari timur-tengah sebenarnya nggak berubah. Tapi kendalanya memang ada sedikit kenaikan (biaya logistik). Mudah-mudahan," ucap dia.
Sebelumnya, Budi menyatakan pemerintah akan memanggil para eksportir, terutama eksportir sawit, untuk membahas potensi dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia. Langkah ini diambil karena konflik berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional yang menjadi rute utama ekspor, termasuk ekspor minyak kelapa sawit (CPO).
"Besok ya, besok saya akan ketemu (eksportir), ya tapi kita juga belum bisa menghitung. Kemarin kita kaji dengan BK Perdag (Badan Kebijakan Perdagangan), tapi kami juga belum bisa memastikan sebelum kami memang dapat masukan juga dari para pelaku usaha ya, karena kan ini, ya mudah-mudahan harapan kita kan perang cepat selesai," kata Budi saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/5/2026).
Ia menambahkan, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi jika konflik berkepanjangan hingga mengganggu ekspor sawit Indonesia. "Karena kalau itu (ekspor CPO) memang terganggu, berarti kita kan harus cari pasar lain. Itu yang besok juga akan saya bicarakan dengan para eksportir," ujarnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]