Perang Arab Tak Selesai-selesai, Bos Sawit Ramal Dampak Ngerinya Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melihat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi membawa keuntungan bagi Indonesia melalui kenaikan harga komoditas ekspor. Namun, pelaku industri sawit mengingatkan, di balik peluang tersebut ada risiko penurunan permintaan akibat melonjaknya biaya logistik global.
Harga CPO memang telah mengalami kenaikan 14% secara tahun berjalan atau year to date (ytd) menjadi US$ 1.110,47 per ton. Namun, dibanding periode yang sama tahun lalu masih terkontraksi 2,8%.
Di sisi lain, pelaku industri sawit melihat konflik geopolitik juga membawa tantangan tersendiri bagi perdagangan global. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, ketidakpastian perang justru berpotensi menekan permintaan karena biaya logistik meningkat tajam.
"Kalau terkait dengan pasar global... kalau perang ini tidak selesai-selesai, sudah pasti permintaan juga akan turun. Kenapa begitu? Karena importir juga akan berpikir kalau biaya yang naik, biaya itu total sekarang transport," kata Eddy kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, biaya pengiriman ekspor sawit saat ini sudah melonjak signifikan. Dalam beberapa kasus, jalur pengiriman juga harus memutar sehingga menambah ongkos logistik.
Foto: Petani Sawit. (Dok. POPSI)Petani Sawit. (Dok. POPSI) |
"Untuk di sawit itu, kita ekspor kan rata-rata kenaikannya 50%. Biaya untuk freight dan insurance. Ada bahkan biaya tambahan lain sebenarnya, tapi nggak usah saya sebutin lah. Malah lebih dari itu. Kalau harus memutar tadi," ujarnya.
Menurut Eddy, kenaikan biaya tersebut dapat membuat negara importir mengurangi pembelian.
"Nah ini mereka akhirnya bisa mengurangi pembelian," ucap dia.
Menghadapi kondisi tersebut, pelaku industri sawit mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi, agar dampak yang terjadi tidak sebesar yang dialami pada 2022 lalu.
Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, perusahaan-perusahaan sawit kini fokus melakukan efisiensi internal sambil memantau perkembangan situasi global.
"Apa yang dilakukan oleh Gapki terkait dengan adanya perang ini, ya kita lebih mengefisiensikan diri lah. Tetap kita membuat skenario di masing-masing internal perusahaan. Apa yang bisa diefisiensikan ya kita efisiensikan," kata Sugeng dalam kesempatan yang sama.
Ia mengatakan, pelaku industri sawit saat ini hanya bisa beradaptasi dengan berbagai dampak global yang terjadi.
"Karena kita tidak bisa menolak kalau ada dampak global yang terjadi, ya kita mesti given kan. Jadi pada prinsipnya ya kita berbenah di internal lah. Sambil juga ya kita terus wait and see melihat perkembangan yang ada. itu saja," pungkasnya.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
Foto: Petani Sawit. (Dok. POPSI)