Internasional

Krisis Iran Bisa Bahayakan BRICS, Kenapa?

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Jumat, 13/03/2026 17:50 WIB
Foto: AFP/PABLO PORCIUNCULA

Jakarta, CNBC Indonesia - BRICS kini disorot. Langkah diam organisasi yang merupakan akronim dari Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan (Afsel), pada serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran membuat kekecewaan muncul.

Hal ini dianggap berbahaya. Bahkan BRICS bisa dianggap sebagai organisasi "usang".


Ini dikatakan analis Rusia, Ketua Presidium Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan, serta Direktur Riset Valdai International Discussion Club, Fyodor Lukyanov. Iran sendiri merupakan anggota BRICS yang resmi masuk pada 2024, setelah diundang di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 2023.

"Jika sebuah organisasi gagal bereaksi terhadap agresi terhadap salah satu anggotanya, organisasi tersebut berisiko tampak tidak relevan," tulisnya dalam analisis di laman RT, dikutip Jumat (13/3/2026).

"Namun, menunjukkan solidaritas yang kuat juga membawa risiko tersendiri," tambahnya.

"Sedikit negara yang bersemangat untuk secara terbuka menghadapi Washington, terutama ketika beberapa anggota BRICS, seperti India dan Uni Emirat Arab, mempertahankan kemitraan erat dengan Amerika Serikat," tambahnya.

Ia pun menilai kekecewaan di sekitar BRICS wajar. Apalagi ada pandangan yang berlebihan tentang kemampuannya. 

"Alih-alih mengubah BRICS menjadi institusi internasional formal, para anggotanya memilih untuk memperluas apa yang mungkin digambarkan sebagai ruang geopolitik 'tanpa Barat'. Bukan blok yang melawan Barat, melainkan arena di mana kerja sama dapat berlangsung secara independen darinya," paparnya.

Fakta ini pun tegasnya, akan membawa perubahan yang sulit ke BRICS. Situasi saat ini menunjukkan perbedaan struktur ekonomi dan prioritas geopolitik antar anggota.

Upaya untuk memaksakan struktur yang kaku justru dinilai akan melumpuhkan kelompok ini di tengah dominasi sistem keuangan global oleh Amerika.

"Alternatifnya, membangun jaringan yang fleksibel di luar sistem yang berpusat pada Barat, sebagian besar tetap menjadi proyek untuk masa depan," tegasnya.

"Untuk saat ini, AS mempertahankan pengaruh yang sangat besar melalui dominasinya atas sistem keuangan global. Kekuatan itu memberi Washington alat yang signifikan untuk merusak inisiatif yang mengancam posisinya," jelas Lukyanov.

Meskipun BRICS tidak mungkin menjadi koalisi militer anti-Amerika yang formal, kelompok ini mewakili porsi besar ekonomi dan populasi dunia yang mampu membentuk tatanan masa depan. Ledakan kemarahan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali terhadap BRICS dianggap sebagai pengakuan naluriah Washington terhadap potensi ancaman ini.

"Untuk saat ini, grup tersebut tetap menjadi platform yang tidak sempurna dan terorganisir secara longgar. Namun menjaganya dan membiarkannya berkembang, mungkin terbukti menjadi salah satu pelajaran terpenting bagi masa depan," katanya.


(tps/șef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cadev Turun USD 151,9 M - As Izinkan India Beli Minyak Rusia