Internasional

Trump Salah Perhitungan, Kenapa Iran Tak Runtuh Diserang AS-Israel?

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Jumat, 13/03/2026 15:40 WIB
Foto: Foto kolase Presiden AS, Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dalam hampir dua minggu terakhir kini memasuki babak baru yang tak terduga. Apa yang awalnya dipresentasikan Washington sebagai kampanye militer cepat untuk mengubah keseimbangan strategis dan memojokkan Teheran, nyatanya terbukti jauh lebih kompleks dari perhitungan di atas kertas.

Selama beberapa bulan terakhir, Gedung Putih bersikeras bahwa Iran berada di ambang kekalahan total pada akhir hari pertama, atau paling lambat hari kedua konflik. Pihak Amerika tampaknya mengharapkan pembongkaran cepat terhadap kemampuan Iran dan destabilisasi serius terhadap pemerintahannya, namun perkembangan terbaru menceritakan kisah yang sangat berbeda.


Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas RUDN sekaligus Dosen Tamu di Institut Ilmu Sosial Akademi Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik Kepresidenan Rusia, Farhad Ibragimov, memberikan analisa. Menurutnya, Iran masih memiliki kekuatan besar untuk bertahan, sehingga menggugurkan asumsi bahwa Washington dan Tel Aviv dapat menang dengan mudah.

"Meskipun mendapat tekanan yang sangat besar, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik dan berhasil mempertahankan operasional institusi negara utama, infrastruktur militer, serta mekanisme tata kelola. Lebih jauh lagi, situasi saat ini menunjukkan bahwa perhitungan awal Washington terlalu optimistis dan gagal memperhitungkan beberapa faktor fundamental yang mendasari ketahanan Iran," tulis Ibragimov, sebagaimana dimuat RT, Jumat (13/3/2026).

Bagaimana Iran Bertahan?

Ketahanan ini sangat luar biasa mengingat pada hari pertama perang, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan terbunuh. AS mengira rezim Iran telah sangat melemah dan akan runtuh seperti kartu yang disusun jika terkena pukulan telak.

Menurut logika ini, melenyapkan pemimpin tertinggi akan memicu reaksi berantai: para elit kehilangan koordinasi, institusi menjadi tidak berfungsi, dan struktur negara akan hancur dengan cepat. Skenario tersebut seharusnya menyerupai peristiwa tahun 2003 di Irak, di mana penghancuran otoritas pusat menyebabkan disintegrasi cepat institusi negara dan periode krisis sistemik yang berkepanjangan.



Namun, peristiwa di Iran mengungkapkan gambaran yang fundamental berbeda. Karena institusi negara tetap beroperasi, badan-badan pemerintah utama tetap aktif, proses pengambilan keputusan berfungsi, dan sistem tidak lepas kendali.

"Hal ini menunjukkan bahwa kerangka politik Republik Islam tidak hanya bergantung pada kepemimpinan individu, tetapi juga pada arsitektur institusional yang kuat yang mampu memastikan stabilitas bahkan di tengah konflik," ungkap Ibragimov.

"Selain itu, Majelis Pakar-badan konsultatif yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi-telah menunjuk Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Ini menunjukkan operasional yang stabil dari kontinuitas kekuasaan institusional," tambahnya.

Selain itu, Iran sudah cukup kebal menghadapi "stres tes" dalam sejarah modern. Sistem politik negara ini telah menghadapi tantangan serius sebelumnya, mulai dari perang Iran-Irak yang menghancurkan pada tahun 1980-an hingga dekade sanksi AS, isolasi internasional, dan krisis regional.

Model ini menggabungkan legitimasi religius-politik dengan aparat keamanan yang kuat dan struktur tata kelola yang cukup fleksibel. Hal itu memungkinkannya beradaptasi dengan tekanan eksternal.

"Krisis saat ini berfungsi sebagai 'ujian lain' bagi ketahanan struktur tersebut. Seiring berkembangnya peristiwa, semakin jelas bahwa ekspektasi Amerika untuk mencapai tujuan strategisnya dengan cepat telah salah arah," jelas Ibragimov.

"Jika krisis ini diselesaikan tanpa gejolak besar, hal itu akan lebih jauh menunjukkan bahwa model negara yang diciptakan setelah Revolusi Islam sangat tangguh. Terlebih lagi, jenis cobaan seperti ini sering kali memberikan efek sebaliknya dalam jangka panjang, yaitu memperkuat persatuan internal dan meningkatkan sistem politik," tambahnya.

Banyak dari faktor ini sudah jelas bagi negara-negara yang memiliki pengalaman luas berurusan dengan Iran, seperti Rusia dan China. Negara-negara tersebut memahami nuansa sistem politik Iran, kapasitas mobilisasinya dalam menghadapi ancaman eksternal, dan tingkat stabilitas institusionalnya yang tinggi.

"Itulah sebabnya para ahli di negara-negara tersebut mempertahankan pandangan yang jauh lebih terukur dan realistis mengenai prospek tekanan koersif terhadap Iran," tambahnya.

Apa Salah Perhitungan Washington?

Retorika kepemimpinan Amerika juga membawa pada pengamatan penting lainnya. Melihat lebih dekat pernyataan Presiden AS Donald Trump, baik unggahan media sosial maupun pidato publiknya, mengungkapkan adanya turbulensi politik dan emosional yang nyata di dalam pemerintahannya.

"Ketidakkonsistenan pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih sangat mencolok sejak dimulainya konflik," ujar Ibragimov.

"Awalnya, pejabat AS menyatakan bahwa tujuan strategis dari kampanye tekanan terhadap Iran adalah pergantian rezim.Pernyataan berikutnya menyarankan bahwa fokusnya semata-mata pada 'demiliterisasi' dan pembatasan kemampuan militer Iran. Ini diikuti oleh petunjuk baru tentang perlunya mengubah sistem politik Iran," paparnya.

"Dan kemudian, retorika bergeser ke arah ledakan emosional dan komentar menghina yang ditujukan baik kepada bangsa maupun kerangka politiknya, serta anggota spesifik dari kepemimpinan Iran."

Wacana yang terus berkembang ini menciptakan rasa ketidakpastian yang nyata, dan hal ini tidak hanya terjadi pada Trump. Ketidakkonsistenan serupa terlihat dalam pernyataan pejabat kunci di administrasinya, seperti Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Perang Pete Hegseth yang berulang kali mengeluarkan pesan kontradiktif selama seminggu terakhir.

"Pergeseran konstan dalam retorika ini secara tak terelakkan memberikan kesan kurangnya strategi yang jelas. Semakin Trump bersikeras bahwa situasi berkembang dengan sukses dan sepenuhnya terkendali, semakin tajam kontras antara narasi ini dengan kenyataan," tambahnya.

"Contoh yang jelas adalah upaya Trump untuk menarik kesejajaran antara Iran dan Venezuela. Perbandingan ini gagal karena kedua negara tersebut memiliki struktur politik yang secara fundamental berbeda," jelasnya lagi.

Gedung Putih, yang terinspirasi oleh apa yang mereka anggap sebagai strategi sukses dalam kasus penculikan Nicolas Maduro, berharap dapat menerapkan pendekatan serupa terhadap Teheran. Asumsinya adalah dengan menciptakan tekanan eksternal dan mendukung destabilisasi internal, keruntuhan rezim yang cepat dapat dicapai.

"Namun, pemikiran ini mengungkapkan kesalahpahaman yang signifikan tentang kenegaraan Iran," kata Ibragimov.

"Bahkan dalam menghadapi ancaman dari AS dan Israel mengenai potensi serangan terhadap kepemimpinan negara, elit Iran tidak menunjukkan tanda-tanda panik atau kelumpuhan politik," ujarnya.

"Dalam konteks ini, agresi saat ini dapat dilihat bukan sebagai tampilan kekuatan dan dominasi oleh AS, melainkan sebagai indikasi kelemahan Amerika. Ketika alat ekonomi, politik, dan informasi gagal mencapai hasil yang diinginkan, tindakan militer menjadi pilihan terakhir," pungkasnya.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gedung Putih Tutup Sementara Usai Ditabrak Mobil Van